Pakar Ungkap Alasan Orang Sulit Berhenti Beli Baju Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Membeli pakaian baru demi mengikuti tren fesyen mungkin sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Kebiasaan belanja baju tanpa mempertimbangkan kebutuhan bisa membuat pakaian lama menumpuk dan berakhir menjadi limbah.
Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof Ujang Sumarwan mengingatkan, kepedulian terhadap lingkungan seharusnya juga tercermin dari kebiasaan seseorang dalam membeli dan menggunakan pakaian. Ia bilang, seseorang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan belum tentu menerapkan prinsip ramah lingkungan ketika berbelanja pakaian. Ada sejumlah faktor yang membuat konsumen masih sulit beralih ke produk fesyen yang lebih berkelanjutan.
"Ada beberapa faktor. Pertama, harga pakaian ramah lingkungan relatif lebih mahal dibandingkan dengan pakaian berbahan konvensional. Kedua, pilihan pakaian ramah lingkungan mungkin tidak sebanyak pakaian berbahan konvensional," jelas Prof Ujang, dikutip dari laman IPB University, Selasa (3/11/2026).
Selain persoalan harga dan keterbatasan pilihan, minimnya informasi mengenai produk pakaian ramah lingkungan juga menjadi tantangan. Konsumen sering kali belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membedakan pakaian yang lebih ramah lingkungan dengan produk konvensional.
Di sisi lain, kebiasaan mengikuti tren fesyen turut memengaruhi keputusan seseorang dalam membeli pakaian. Prof Ujang menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesadaran terhadap lingkungan tidak selalu berjalan seiring dengan perilaku konsumsi sehari-hari.
Padahal, pakaian merupakan salah satu produk yang paling sering dibeli masyarakat setelah makanan dan minuman. Oleh karenanya, keputusan membeli, menggunakan, hingga membuang pakaian perlu mendapat perhatian.
Lantas, bagaimana dengan pakaian yang sudah tidak digunakan?
Prof Ujang menyarankan masyarakat untuk tidak langsung membuang pakaian lama yang masih layak pakai. Salah satu cara sederhana adalah menyumbangkannya kepada orang lain yang membutuhkan.
Alternatif lainnya adalah menjual kembali pakaian melalui pasar barang bekas atau preloved. Cara ini dapat memperpanjang masa penggunaan pakaian sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi pemilik sebelumnya.
"Saya sendiri diberikan kepada yang lain," ujarnya.
Menurutnya, memperpanjang usia pakai pakaian merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi limbah tekstil. Prof Ujang juga menilai upaya membangun gaya hidup ramah lingkungan atau green lifestyle membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat.
"Perguruan tinggi juga perlu mendorong pengembangan bahan baku pakaian yang lebih ramah lingkungan, dan desainer perlu memikirkan cara membuatnya tetap menarik. Edukasi diperlukan agar baju bekas tidak langsung menjadi limbah," katanya.
Ia menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat semakin memahami dampak lingkungan dari produk pakaian yang mereka konsumsi. Masyarakat juga dapat mulai menerapkan kebiasaan sederhana, seperti mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli baju baru, mencari informasi mengenai bahan pakaian yang lebih ramah lingkungan, serta memanfaatkan pasar preloved.
Dengan demikian, menerapkan gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Kebiasaan sederhana dalam memilih, memakai, dan merawat pakaian juga bisa menjadi langkah awal.
"Semoga konsumen kita semakin sadar terhadap lingkungan," kata ia.