Sistem CPNS RI Ternyata dari Zaman Belanda, Ini Ceritanya!

Martya Rizky,  CNBC Indonesia
01 November 2026 17:30
Sejumlah peserta mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024 formasi Kementerian Kesehatan di Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat, Jakarta, Jumat (25/10/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sejumlah peserta mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024 formasi Kementerian Kesehatan di Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat, Jakarta, Jumat (25/10/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik ketatnya persaingan seleksi CPNS setiap tahun, ternyata tersimpan sejarah panjang sejak penjajan belanda. Jejak sistem birokrasi yang menjadi pondasi kepegawaian pemerintah ternyata warisan era Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia - Belanda pada 1808 - 1811.

Saat itu kolonial Belanda tengah melakukan pembenahan besar-besaran terhadap sistem administrasi pemerintah.

Daendels melihat pemerintahan baru setelah runtuhnya VOC membutuhkan birokrasi yang lebih teratur. Sebab, selama era VOC, tidak ada hal demikian sehingga sistem administrasinya dinilai rentan terhadap penyelewengan dan korupsi.

Dalam Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman Willem Daendels di Jawa 1808-1811 (2005), sejarawan Djoko Marihandono menyebut Daendels berusaha membenahi kekacauan birokrasi tersebut. Ia membawa semangat perubahan yang dipengaruhi Revolusi Prancis dan model pemerintahan Napoleon Bonaparte.

Daendels kemudian melakukan reorganisasi besar-besaran terhadap birokrasi di Jawa. Ia ingin mengubah sistem pemerintahan yang sebelumnya masih dipengaruhi pola lama menjadi birokrasi yang lebih terpusat dan memiliki jenjang yang jelas.

Dalam sistem baru tersebut, pejabat ditempatkan berdasarkan jabatan dan hierarki. Mereka memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang lebih jelas. Pemerintah juga memberikan gaji kepada para pegawai sebagai imbalan atas pekerjaan mereka.

Sejarawan Ong Hok Ham dalam Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi (1983) menyebut Daendels mengubah kedudukan birokrasi di Hindia Belanda, khususnya Jawa. Para pejabat ditempatkan sesuai hierarki dan kepangkatan.

Mereka juga diberikan seragam dan tanda pangkat untuk menunjukkan fungsi serta kedudukannya. Dengan adanya jenjang tersebut, perintah dari pemerintah pusat dapat diteruskan secara berlapis.

Gubernur Jenderal tidak perlu lagi memberikan instruksi langsung kepada pegawai di tingkat paling bawah. Arahan cukup diberikan kepada pejabat di tingkat atas untuk kemudian diteruskan kepada bawahan sesuai struktur yang telah ditetapkan.

Sistem tersebut membuat pemerintahan menjadi lebih tersentralisasi. Setiap pejabat memiliki posisi, fungsi, dan tanggung jawab yang lebih jelas dalam menjalankan pemerintahan.

Pemberian gaji juga menjadi bagian penting dari pembenahan tersebut. Daendels berupaya membuat pejabat memperoleh penghasilan dari negara sehingga mereka tidak perlu mencari keuntungan tambahan melalui jabatan yang dimiliki.

Selain memperoleh gaji, pegawai juga memiliki kesempatan mendapatkan kenaikan penghasilan apabila memberikan kontribusi sesuai dengan tugasnya. Ketika menduduki jabatan, mereka juga diwajibkan mengucapkan sumpah jabatan kepada atasannya.

Dengan demikian, sistem yang dibangun Daendels tidak hanya mengatur siapa yang menjadi pejabat, tetapi juga bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan, bagaimana seseorang menjalankan tugas, serta bagaimana negara memberikan imbalan kepada pegawainya.

Inilah yang kemudian diwariskan ketika Indonesia merdeka, sekalipun dalam perjalanannya banyak mengalami penyesuaian, termasuk saat pemerintah mengadakan seleksi CPNS pada tahun mendatang.

(mfa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Studi Ungkap Rakyat Makin Depresi Saat Korupsi Merajalela


Most Popular
Features