Kanker Kolorektal pada Anak Meningkat Tajam, Ini Sederet Gejalanya

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
27 October 2026 11:30
Ilustrasi Kanker (Photo by Ave Calvar Martinez via pexels)
Foto: Ilustrasi kanker. (Photo by Ave Calvar Martinez via pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus kanker kolorektal pada anak dan remaja di Amerika Serikat mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir. Meski penyakit ini masih tergolong langka pada kelompok usia muda, lonjakan kasus tersebut mendorong para peneliti untuk mencari tahu penyebabnya.

Melansir Live Science, Selasa (27/10/2026), kanker kolorektal merupakan kanker yang menyerang usus besar dan rektum. Penyakit ini umumnya ditemukan pada orang berusia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, angka diagnosis pada anak, remaja, dan dewasa muda justru menunjukkan tren peningkatan.

Data yang dianalisis dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa angka diagnosis kanker kolorektal pada anak berusia 10-14 tahun meningkat dari satu kasus per satu juta anak pada 1999 menjadi enam kasus per satu juta anak pada 2020.

Sementara itu, pada kelompok remaja berusia 15-19 tahun, angka diagnosis naik dari tiga kasus per satu juta orang menjadi 13 kasus per satu juta orang dalam periode yang sama. Walaupun peningkatannya cukup signifikan, jumlah kasus pada anak dan remaja masih relatif kecil dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.

Kanker pada Usia Muda Cenderung Lebih Agresif
Peningkatan kasus bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian para peneliti. Kanker kolorektal yang ditemukan pada pasien berusia muda juga diduga memiliki karakteristik berbeda dan cenderung lebih agresif.

Dalam penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Pediatrics pada Oktober 2026, peneliti Erica Arnold dan timnya menganalisis 84 pasien berusia 21 tahun ke bawah yang didiagnosis menderita kanker kolorektal antara 2012 dan 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia median saat diagnosis adalah 16 tahun. Para pasien juga mengalami gejala selama median 12 minggu sebelum penyakit terdiagnosis.

Sebanyak 80 persen pasien dalam penelitian tersebut diketahui telah berada pada kanker stadium III atau IV saat diagnosis. Pada tahap ini, kanker telah menyebar ke jaringan sekitar, kelenjar getah bening, atau organ lain.

Sebagai perbandingan, sekitar 60 persen pasien kanker kolorektal dari seluruh kelompok usia didiagnosis pada stadium III atau IV. Selain itu, sekitar sepertiga pasien muda dalam penelitian tersebut memiliki penanda sel yang berkaitan dengan kanker yang sangat agresif.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kanker kolorektal pada usia muda mungkin memiliki pola perkembangan yang berbeda. Namun, para peneliti menegaskan bahwa penelitian tersebut melibatkan kelompok pasien terbatas sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh pasien di Amerika Serikat.

Faktor Penyebab Masih Belum Diketahui
Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai penyebab meningkatnya kasus kanker kolorektal pada anak dan remaja. Salah satu bidang yang banyak diteliti adalah mikrobioma usus, yakni kumpulan bakteri dan mikroorganisme lain yang hidup di saluran pencernaan.

Menurut Christopher Lieu, profesor onkologi medis di University of Colorado Anschutz, perubahan keseimbangan mikrobioma usus dapat memicu peradangan. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut berpotensi memicu perubahan DNA yang berkontribusi terhadap perkembangan kanker.

Para peneliti juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain, seperti konsumsi makanan olahan, penggunaan antibiotik sejak masa kanak-kanak, stres, kurangnya aktivitas fisik, dan paparan lingkungan.

Jenis bakteri tertentu, termasuk varian Escherichia coli, juga diketahui memiliki kaitan dengan kanker kolorektal. Namun, faktor tersebut belum dapat menjelaskan seluruh peningkatan kasus pada kelompok usia muda. Para ahli menduga peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, bukan satu penyebab tunggal.

Gejala yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Dalam penelitian terhadap 84 pasien muda tersebut, gejala yang paling banyak dilaporkan adalah nyeri punggung dan perut, yang dialami 75 persen pasien.
Sebanyak 45 persen mengalami perubahan pola buang air besar, 43 persen mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, dan 38 persen mengalami perdarahan dari rektum.

Gejala-gejala tersebut perlu mendapat perhatian, terutama jika berlangsung terus-menerus atau semakin memburuk. Meski demikian, sakit perut dan gangguan pencernaan pada anak jauh lebih sering disebabkan oleh kondisi lain yang tidak berkaitan dengan kanker.

Orang tua disarankan membawa anak ke dokter apabila keluhan tidak kunjung membaik, semakin parah, disertai penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau terdapat darah pada tinja. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

Para peneliti berharap pemahaman yang lebih baik mengenai faktor risiko dan karakteristik kanker kolorektal pada usia muda dapat membantu meningkatkan kewaspadaan serta mempercepat diagnosis.

Meski penyakit ini masih sangat jarang terjadi pada anak, mengenali gejala yang menetap dan tidak mengabaikan tanda-tanda yang tidak biasa menjadi langkah penting agar kondisi serius dapat terdeteksi lebih awal.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kanker Usus Banyak Intai Anak Muda, 7 Makanan Ini Pemicunya


Most Popular
Features