In This Economy: Sarjana Tak Gengsi Kerja Jadi ART

f,  CNBC Indonesia
25 October 2026 13:40
Rumah Jasa Tenaga Kerja Bugito ini berdiri sejak tahun 1992 yang dimiliki oleh Ibu Ruminah. Rumah ini membuka Penyaluran jasa masak dapur, Asisten Rumah Tangga, hingga Baby Sitter. Untuk paket infal (pembantu pengganti) ini ada berbagai macam paket j
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelar sarjana tak selalu menjamin penghasilan yang layak. Di tengah tekanan ekonomi, banyak lulusan perguruan tinggi memilih banting setir dan tanpa gengsi menjadi asisten rumah tangga (ART) demi kehidupan yang lebih baik.

Salah satunya Maha (31), lulusan sarjana yang rela meninggalkan pekerjaan kantoran di Indonesia untuk menjadi ART di Taiwan. Keputusan itu diambil setelah penghasilannya di Tanah Air tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membantu melunasi utang keluarga.

Maha merupakan lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 2018. Sebelum merantau ke Taiwan, ia sempat bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember, tepatnya di divisi sumber daya manusia (SDM) dan keuangan.

Namun, gaji setara upah minimum regional (UMR) yang diterimanya kala itu sebagian besar habis untuk membayar kos dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, Maha juga harus membantu melunasi utang orang tuanya.

Kondisi tersebut membuatnya kesulitan menyisihkan penghasilan untuk ditabung. Keterbatasan finansial akhirnya mendorong Maha mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaannya di Indonesia dan mencari penghasilan di Taiwan.

"Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia.

Maha kemudian mulai mempertimbangkan pekerjaan lain yang tidak mengharuskannya mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal. Dari situlah muncul keinginan untuk bekerja sebagai ART di Taiwan.

"Kupikir-pikir kalau kerja lagi maunya yang enggak perlu bayar kos, dan kepikiranlah ke Taiwan. Nekat saja sih ini," ujarnya.

Lunasi Utang Keluarga dari Gaji ART

Selama bekerja sebagai ART, Maha bertanggung jawab memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai milik majikannya, mencuci pakaian menggunakan mesin maupun secara manual, hingga berbelanja ke pasar.

Sesekali, ia juga membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya datang berkunjung. Dari berbagai pekerjaan tersebut, Maha memperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan.

Meski mengaku pekerjaannya cukup berat hingga pernah tertidur di kamar mandi, keputusan menjadi ART di Taiwan ternyata membawa perubahan besar bagi kehidupan Maha dan keluarganya. Hasil kerja kerasnya bahkan sudah terasa sejak tahun pertama.

"Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," katanya.

Tak hanya dari sisi finansial, Maha merasa pengalamannya bekerja di Taiwan juga membuat dirinya berkembang secara pribadi. Ia belajar beradaptasi dengan lingkungan, budaya, serta bahasa yang berbeda.

Maha menegaskan tidak pernah menyesali keputusannya meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi ART. Menurutnya, pekerjaan tersebut tidak seharusnya dipandang sebelah mata.

Ia juga tidak merasa gelar sarjana yang diperolehnya menjadi sia-sia hanya karena kini bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan kuliahnya.

"Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya.

Menurut Maha, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan gelar maupun jenis pekerjaan. Pendidikan juga membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.

Berbagai kemampuan tersebut tetap bermanfaat meskipun seseorang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Banyak Sarjana Lain Punya Pengalaman Serupa

Pengalaman Maha yang dibagikan melalui akun Threads @noraisaly*** rupanya mendapat banyak tanggapan dari pengguna media sosial. Sejumlah warganet mengaku memiliki pengalaman serupa, yakni meninggalkan pekerjaan sebelumnya untuk menjadi ART di luar negeri.

Salah satunya adalah pengguna akun @maufy_i*** yang mengaku merupakan lulusan D1 Administrasi. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai kepala gudang sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri dan menjadi ART di Hong Kong.

"Aku D1 Administrasi lulusan tahun 2012, kerja udah jadi kepala gudang dan resign, lalu memilih jadi babu Hong Kong. Alhamdulillah udah enam tahun di majikan yang sama dan aku betah," tulisnya.

Cerita serupa juga datang dari pengguna akun @austin698*** yang mengaku sebagai lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Terdesak Ekonomi, Sarjana Pantang Gengsi Kerja Jadi ART


Most Popular
Features