Karhutla Musim Kemarau 2026

Tragedi Karhutla: Udara Buruk, Balita RI Korban-Lebih 75.000 Kasus

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
22 October 2026 18:55
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr. Then Suyanti memaparkan perkembangan dampak karhutla dalam konferensi pers bersama BNPB, Kamis (22/10/2026). (Tangkapan layar youtube BNPB Indonesia)
Foto: Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr. Then Suyanti memaparkan perkembangan dampak karhutla dalam konferensi pers bersama BNPB, Kamis (22/10/2026). (Tangkapan layar youtube BNPB Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan kualitas udara di beberapa daerah Kalimantan terpantau masih mengkhawatirkan setelah adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr. Then Suyanti mengatakan berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah masih dalam kategori berbahaya, dengan Kota Palangka Raya menjadi yang terparah yakni indeksnya mencapai 1.297.

Berikutnya Kabupaten Murung Raya yang indeksnya mencapai 722 dan Kabupaten Barito Selatan yang mencapai 555.

"Pada saat ini, kalau kita lihat dengan data indeks standar pencemaran udara (ISPU), di Kalimantan Tengah kondisi saat ini ada 7 kabupaten/kota yang kategorinya berbahaya," kata Suyanti dalam konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait update perkembangan bencana di Indonesia, Kamis (22/10/2026).

Sedangkan di Sumatra Selatan, ada tiga kabupaten/kota yang kualitas udaranya dalam kategori berbahaya, dengan Kota Palembang menjadi yang paling berbahaya yakni mencapai 552.

"Kemudian kalau kita lihat di Sumatra Selatan, kita lihat ini ada 3 kabupaten/kota yang berbahaya yaitu Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Pali," terang Suyanti.

Berikutnya di Jambi, ada dua kabupaten yang kualitas udaranya dalam kategori berbahaya yakni Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tebo dengan nilai 341.

Suyanti menegaskan risiko Kesehatan akibat karhutla harus diantisipasi, mengingat kualitas udaranya terus memburuk di wilayah lokasi karhutla terparah.

"Karhutla tentunya mengandung partikel halus yaitu PM2,5, yang terdiri atas karbon monoksida maupun nitrogen dioksida, dan senyawa organik lainnya yang tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan," tegas Suyanti.

Kasus ISPA di Lokasi Terdampak Karhutla

Suyanti menjelaskan risiko Kesehatan akibat terpapar karhutla dapat menyebabkan gangguan mata dan kulit termasuk dampak sistemik.

"Kelompok rentan sangat kita perhatikan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun pekerja di luar ruangan," ujarnya.

Saat ini, masyarakat yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di wilayah terdampak karhutla secara kumulatif dari periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026 mencapai 333.470 kasus, dengan kasus harian mencapai 4.522.

"Untuk kategori anak di bawah lima tahun atau balita mencapai 75.172 kasus dan di atas umur lima tahun adalah 258.298 kasus. Ini kalau kita lihat ada tren kasus ISPA berdasarkan 7 wilayah karhutla," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kemenkes Turunkan 2.106 Nakes Tangani Dampak Kebakaran Hutan


Most Popular
Features