Gen Z Pantang Gengsi Jadi Petani Kentang, Sekali Panen 9,5 Ton

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
21 October 2026 17:15
Seorang petani Gen Z saat ditemui di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Seorang petani Gen Z saat ditemui di Kamojang, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Bandung, CNBC Indonesia - Di tengah banyaknya anak muda yang memilih bekerja kantoran, Hendro Gunawan (29) justru mantap melanjutkan mata pencaharian keluarganya sebagai petani.

Pemuda asal kawasan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu mengaku tidak pernah menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan. Sebaliknya, ia melihat sektor ini memiliki peluang ekonomi yang besar sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Hendro merupakan salah satu petani yang tergabung dalam Kelompok Kani Hutan Cikodang dan menjadi mitra binaan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang. Menurutnya, keputusan menjadi petani tidak terlepas dari latar belakang keluarga yang telah menggeluti sektor pertanian secara turun-temurun.

"Kenapa Hendro pilih bertani? Karena pertanian itu berkelanjutan. Orang-orang tidak akan lepas dari dunia pertanian. Makan kita hasil dari pertanian," ujar Hendro saat ditemui di Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).

Ia mengakui, profesi petani saat ini masih didominasi generasi yang lebih tua. Berdasarkan pengamatannya, sebagian besar petani di lingkungan sekitarnya telah berusia di atas 40 tahun.

Sementara itu, banyak anak muda di kawasan Kamojang lebih tertarik bekerja di berbagai proyek pembangunan yang berkembang di wilayah tersebut. Kondisi ini justru menjadi salah satu alasan Hendro memilih bertahan di sektor pertanian.

Baginya, regenerasi petani menjadi penting agar kegiatan pertanian tidak berhenti ketika generasi sebelumnya semakin menua.

Dari Sulit Pupuk hingga Panen Kentang 9,5 Ton

Meski demikian, perjalanan Hendro sebagai petani bukan tanpa tantangan. Ia mengungkapkan kelompoknya sempat kesulitan memperoleh pupuk kimia pada periode 2021 hingga 2023.

Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus juga dinilai berdampak terhadap produktivitas lahan yang mereka kelola. Kelompok tani kemudian mulai beralih menggunakan pupuk organik. Namun, langkah tersebut sempat menghadapi kendala karena pupuk organik yang belum matang berisiko mengganggu hasil pertanian.

Perubahan mulai dirasakan setelah kelompok tani memperoleh pendampingan dari PGE Kamojang dalam pengembangan pupuk organik Geofert. Pupuk tersebut memanfaatkan panas dari energi geothermal dalam proses pengeringannya.

Hendro mengklaim penggunaan pupuk organik tersebut memberikan hasil yang cukup signifikan terhadap produktivitas tanaman.

"Di lahan ini, lahan yang kemarin bekas rumput, biasanya ditanami maksimal hanya 4 sampai 5 ton kentang. Alhamdulillah kemarin setelah menggunakan pupuk organik ini kita mendapatkan 9,5 ton," katanya.

Tidak hanya kentang, kelompok tani juga mengembangkan berbagai komoditas lain, termasuk cabai dan kubis. Hendro menyebut hasil penjualan dari sejumlah komoditas pertanian yang dikelola kelompoknya secara keseluruhan diperkirakan telah melampaui Rp100 juta per masa panen.

Namun, angka tersebut bukan merupakan pendapatan pribadi Hendro, melainkan hasil kegiatan pertanian kelompok yang sebagian juga digunakan kembali untuk pengembangan usaha.

Saat ini, kelompoknya terus memperluas pengelolaan lahan, termasuk memanfaatkan lahan milik masyarakat yang sebelumnya tidak produktif. Di sisi lain, Hendro mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama kebutuhan air untuk penyiraman tanaman saat musim kemarau serta tingginya harga pestisida.

Untuk mengatasinya, kelompok tani mulai mengembangkan penggunaan pestisida nabati yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Bagi Hendro, bertani bukan sekadar melanjutkan pekerjaan orang tua, melainkan juga menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus membuktikan bahwa sektor pertanian tetap memiliki peluang bagi generasi muda.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Scream or Dance Dorong Pertumbuhan Lapangan Kerja di Indonesia


Most Popular
Features