Sederet Masalah Kesehatan Mental Mahasiswa, Dari Homesick Hingga Stres

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
09 October 2026 13:35
Infografi/Tips Menjaga Kesehatan Mental untuk Remaja selama Pandemi/Aristya Rahadian
Foto: Ilustrasi solusi masalah kesehatan mental. (CNBC Indonesia/Aristya Rahadian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Universitas Indonesia (UI) mengambil langkah pencegahan terhadap masalah kesehatan mental mahasiswa, khususnya mereka yang tinggal di asrama. Upaya ini dilakukan melalui peluncuran buku saku skrining kesehatan mental untuk membantu mendeteksi lebih awal mahasiswa yang membutuhkan pendampingan psikologis.



Langkah tersebut dilatarbelakangi berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa selama tinggal jauh dari keluarga, mulai dari kesulitan beradaptasi, rasa rindu terhadap rumah atau homesick, hingga tekanan akademik dan masalah pribadi.

Direktur Pengelola Fasilitas Penunjang Pendidikan UI, Deni Danial Kesa mengatakan, skrining kesehatan mental merupakan langkah antisipatif agar persoalan psikologis mahasiswa dapat diketahui sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

"Jadi ini sebenarnya langkah antisipatif ya. Jadi kita tidak ingin ada kejadian yang terjadi setelah itu kita baru ribut. Jadi semacam manajemen memadam kebakaran," kata Deni saat ditemui CNBC Indonesia di Asrama UI, Depok, Jumat (9/10/2026).

Ia bilang, tidak semua mahasiswa yang mengalami masalah psikologis mampu menyampaikan keluhannya secara langsung. Sehingga, diperlukan instrumen yang dapat membantu mahasiswa mengenali dan mengungkapkan kondisi mereka.

"Karena terkadang orang yang mengalami permasalahan itu ada yang bisa mengungkapkannya atau yang tidak," ujarnya.

Deni menegaskan, buku saku tersebut bukan merupakan alat diagnosis gangguan mental, melainkan instrumen skrining awal sebelum mahasiswa mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga profesional, seperti psikolog maupun psikiater.

UI, kata ia, juga membuka peluang agar instrumen tersebut dapat digunakan lebih luas, tidak hanya bagi mahasiswa penghuni asrama, tetapi juga mahasiswa di fakultas lain hingga pengelola rumah kos dan apartemen.

"Kita akan coba sosialisasikan ke unit-unit yang lain, fakultas, bahkan direktorat," kata Deni.

Sementara itu, Kepala Asrama Mahasiswa UI, Mariyah mengungkapkan, persoalan kesehatan mental menjadi salah satu perhatian pengelola karena banyak penghuni asrama merupakan mahasiswa yang berasal dari luar Jabodetabek, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia bilang, mahasiswa baru kerap menghadapi tantangan ketika harus tinggal jauh dari orang tua dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum dikenal.

"Kami, Bu, homesick, Bu. Kami, Bu, kangen sama adik-adik, sama keluarga. Kami pengen pulang, Bu," kata Mariyah menirukan keluhan sejumlah mahasiswa saat kegiatan penyambutan mahasiswa baru.

Buku saku skrining kesehatan mental mahasiswa penghuni asrama Universitas Indonesia (UI) yang diluncurkan di Asrama UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (9/10/2026), disusun sebagai panduan untuk membantu deteksi dini risiko masalah kesehatan mental mahasiswa, termasuk stres, kecemasan, dan depresi. (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)Buku saku skrining kesehatan mental mahasiswa penghuni asrama Universitas Indonesia (UI) yang diluncurkan di Asrama UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (9/10/2026), disusun sebagai panduan untuk membantu deteksi dini risiko masalah kesehatan mental mahasiswa, termasuk stres, kecemasan, dan depresi. (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)



Selain merindukan keluarga, sebagian mahasiswa juga mengaku mengalami stres karena belum memiliki teman dekat di lingkungan asrama. Mariyah bilang, pengelola telah menyediakan layanan konseling setiap Rabu dengan menghadirkan psikolog untuk membantu mahasiswa menyampaikan persoalan yang dihadapi.

Namun, ia mengakui terdapat sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut karena kondisi mahasiswa sudah cukup berat.

"Ada beberapa yang pernah juga kami sampai mengalami kesulitan untuk bisa mengatasi mahasiswa itu. Karena sudah terlanjur kronis dalam tanda petik," ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, pengelola asrama berkoordinasi dengan orang tua dan tenaga profesional. Jika diperlukan, mahasiswa juga dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Ia menekankan kerahasiaan informasi pribadi mahasiswa tetap menjadi perhatian dalam proses pendampingan maupun skrining kesehatan mental. Berdasarkan data pengelola, Asrama UI memiliki kapasitas sekitar 1.705 mahasiswa dengan 1.425 kamar.

Ketua Pengusul Buku Saku Skrining Kesehatan Mental Mahasiswa Penghuni Asrama UI, Ari Nurfikri, menjelaskan penyusunan instrumen tersebut berangkat dari pengalamannya menghadapi mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis selama menjalani perkuliahan. Ia menekankan, beban akademik yang tinggi dapat memicu persoalan kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi, sehingga diperlukan pemetaan kondisi psikologis mahasiswa sejak awal.

Dalam penyusunan buku saku, tim melakukan pengumpulan data awal terhadap 62 mahasiswa penghuni asrama. Jumlah tersebut masih jauh dari target minimal 360 responden yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih luas mengenai kondisi mahasiswa.

Ari mengatakan hasil penelitian awal belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan prevalensi gangguan kesehatan mental seluruh penghuni asrama.

"Saya belum berani state jumlahnya, harus lebih banyak lagi sehingga mewakili semua populasi yang ada di asrama ini," jelasnya.

Instrumen yang digunakan dalam skrining mencakup pengukuran kesejahteraan psikologis serta potensi depresi dan kecemasan. Ke depan, Ari berharap skrining dapat diterapkan sejak awal mahasiswa masuk asrama, sehingga pengelola dapat memetakan kelompok yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih intensif. Penerapan secara lebih optimal ditargetkan mulai angkatan mahasiswa 2027.

Psikolog Ungkap Cara Mencegah Burnout
Psikolog klinis dewasa Carrennina Prilly Juaninda menekankan pentingnya dukungan sosial dan kemampuan mengelola stres untuk meminimalkan risiko burnout atau kelelahan akibat tekanan berkepanjangan. Ia bilang, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah tetap terhubung dengan sumber bantuan ketika menghadapi beban psikologis.

"Cara biar burnout terminimalisir adalah terkoneksi dengan bantuan untuk mengelola beban stres saat ini," ujarnya.

Selain itu, mahasiswa perlu belajar membedakan persoalan yang masih berada dalam kendali mereka dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Dengan demikian, mahasiswa tidak selalu memandang seluruh tekanan yang dialami sebagai akibat dari kekurangan atau kesalahan diri sendiri.

"Penting juga untuk melakukan self-care atau perawatan diri ketika kondisi psikologis mulai terasa tidak kondusif," ungkapnya.

Di sisi lain, Deni memastikan UI telah menyediakan dukungan anggaran untuk pelayanan mahasiswa, termasuk layanan konseling gratis.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan tenaga profesional terkadang membuat mahasiswa harus menunggu untuk mendapatkan layanan. Oleh karenanya, keberadaan instrumen skrining diharapkan dapat membantu pengelola mengidentifikasi mahasiswa yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

"Sehingga kita memunculkan satu tools ini sebenarnya untuk mempermudah skrining awal, sehingga ada langkah prioritas memetakan di unit-unit mana yang memang membutuhkan alokasi personel tersebut," kata Deni.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Zulhas Bicara Pentingnya Berolahraga Lari, Bisa Menyelesaikan Stres


Most Popular
Features