Kabut Asap Kepung Malaysia, Selangor hingga Melaka Tutup Sekolah

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
09 October 2026 11:52
Sebanyak 29 wilayah di Malaysia termasuk Kuala Lumpur mencatat indeks kualitas udara tak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa provinsi di Indonesia. (REUTERS/Hasnoor Hussain)
Foto: Sebanyak 29 wilayah di Malaysia termasuk Kuala Lumpur mencatat indeks kualitas udara tak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa provinsi di Indonesia. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kualitas udara di sebagian besar wilayah Malaysia berada pada kategori tidak sehat pada Jumat pagi (9/10/2026). Kondisi ini mendorong penutupan seluruh sekolah dasar dan menengah di Selangor, Melaka, dan Negeri Sembilan.

Melansir Malay Mail, kota Seremban, Negeri Sembilan, mencatat Indeks Pencemar Udara (API) tertinggi di Malaysia, yakni 186.

Berdasarkan data pemantauan Departemen Lingkungan Hidup Malaysia (DOE) pada pukul 08.30 waktu setempat, sebanyak 38 dari 68 stasiun pemantau kualitas udara di seluruh negeri mencatat indeks API pada kisaran 101-200, yang masuk kategori tidak sehat.

Sementara itu, 30 stasiun lainnya mencatat kualitas udara dalam kategori sedang. Tidak ada stasiun yang mencatat kualitas udara baik maupun mencapai kategori sangat tidak sehat, yakni API 201 ke atas.

Meski belum menembus kategori sangat tidak sehat, sejumlah wilayah mencatat angka indeks yang mendekati ambang batas tersebut. Tujuh stasiun pemantau bahkan melaporkan API di atas 180.

Setelah Seremban dengan angka 186, Bandaraya Melaka mencatat API 184. Tiga lokasi lainnya, yakni Nilai di Negeri Sembilan, Bukit Rambai di Melaka, dan Segamat di Johor, masing-masing mencatat angka 183.

Sementara itu, Johan Setia di Selangor, yang menjadi salah satu lokasi titik api kebakaran lahan gambut, mencatat API 182. Adapun Tangkak di Johor berada pada angka 181.

Sejumlah wilayah lain juga mencatat kualitas udara yang mendekati ambang tersebut. Pasir Gudang mencatat API 179, Shah Alam 178, dan Alor Gajah 177.

Di Perak, indeks API di Tasek Ipoh mencapai 176, Tanjung Malim 173, dan Pegoh Ipoh 171. Kluang di Johor juga mencatat angka 176, sedangkan Port Dickson berada pada level 174.

Di kawasan Lembah Klang, Batu Muda di Kuala Lumpur mencatat API 172. Cheras dan Putrajaya masing-masing berada pada angka 170, disusul Petaling Jaya dan Banting dengan 169, serta Klang pada angka 168.

Di Johor, Larkin mencatat API 172, sementara Batu Pahat dan Pengerang masing-masing berada di angka 169. Kota Tinggi mencatat 164. Adapun Rompin di Pahang mencatat indeks 170.

Wilayah utara dan timur Malaysia juga mengalami pencemaran udara, meskipun angkanya relatif lebih rendah. Indera Mahkota Kuantan mencatat API 162, Seri Manjung 159, Sungai Petani 157, dan Temerloh 154.

Minden dan Kemaman masing-masing berada pada angka 153, diikuti Alor Setar dengan 152 dan Seberang Jaya 151. Sementara itu, Kuala Selangor mencatat 145, Taiping 130, dan Seberang Perai 120. Balok Baru Kuantan mencatat angka terendah dalam kategori tidak sehat, yakni 107.

Sekolah Ditutup, Pembelajaran Dialihkan ke Rumah

Menyikapi kondisi tersebut, seluruh sekolah dasar dan menengah di Selangor, Melaka, dan Negeri Sembilan ditutup pada Jumat menyusul arahan Kementerian Pendidikan Malaysia.

Berdasarkan pedoman yang diumumkan sehari sebelumnya, seluruh institusi pendidikan di wilayah dengan indeks API di atas 180 diwajibkan menghentikan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan segera beralih ke pembelajaran dari rumah atau Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR).

Kementerian juga menginstruksikan penutupan sekolah di distrik yang mencatat API di atas 150 selama tiga hari berturut-turut. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Senin, 12 Oktober.

Direktur Jenderal Pendidikan Malaysia, Datuk Mohd Azam Ahmad, mengatakan penutupan sekolah secara preventif dilakukan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan partikel berbahaya di udara.

Kebijakan ini juga merespons kekhawatiran yang disampaikan Yang Mulia Sultan Ibrahim, Raja Malaysia, mengenai kondisi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Kabut Asap Dikaitkan dengan Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia mengaitkan kondisi kabut asap dengan cuaca kering berkepanjangan serta ratusan titik api yang terdeteksi di wilayah Sumatra dan Kalimantan, Indonesia.

Kabut asap lintas batas tersebut memperburuk kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia dan memicu kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim sebelumnya menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi yang mengkhawatirkan.

Ia mengatakan pemerintah telah mengintensifkan operasi penyemaian awan di wilayah-wilayah yang berpotensi membentuk awan. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk membantu mengurangi tingkat polusi udara di tengah kondisi cuaca kering.

Dengan puluhan stasiun pemantau masih mencatat kualitas udara tidak sehat, pemerintah Malaysia terus mengambil langkah pencegahan, termasuk menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka di wilayah terdampak, guna mengurangi risiko paparan polusi terhadap masyarakat.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kabut Asap Kian Parah, Malaysia Batalkan Event Olahraga


Most Popular
Features