Kamu Sering Muntahkan Makanan Biar Kurus? Dokter Ungkap Bahayanya

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
09 October 2026 10:03
Ilustrasi Keracunan Makanan. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi muntah. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian orang mungkin menganggap memuntahkan kembali makanan setelah makan bisa menjadi jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Cara ini juga kerap terlihat dalam konten mukbang. Namun, kebiasaan tersebut bukan metode diet yang sehat dan justru bisa membahayakan tubuh.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH mengatakan, makanan yang dimuntahkan bukan berarti seluruhnya keluar dari tubuh. Pasalnya, proses penyerapan zat gizi sudah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi.



"Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan," kata Yunita, dikutip dari laman IPB University, Senin (5/10/2026).

Jika dilakukan berulang untuk mengontrol berat badan, perilaku tersebut termasuk purging behavior atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. Yunita bilang, kebiasaan ini dapat menciptakan siklus makan berlebihan yang kemudian diikuti rasa bersalah dan ketakutan berat badan bertambah, yang pada akhirnya mendorong seseorang kembali memuntahkan makanan.

"Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, munculnya rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan," jelasnya.

Perilaku tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti bulimia nervosa. Sehingga, konten mukbang yang menormalisasi tindakan memuntahkan makanan perlu disikapi secara hati-hati, terutama karena berpotensi ditiru remaja dan orang yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan.

Bisa Picu Hipokalemia hingga Gangguan Jantung
Salah satu risiko muntah berulang adalah hipokalemia, yakni kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah. Yunita menjelaskan, muntah membuat tubuh kehilangan cairan dan membuat asam lambung.

Kondisi tersebut kemudian mengaktifkan mekanisme hormonal tubuh untuk mempertahankan cairan. Peningkatan hormon aldosteron dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine.

"Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung. Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa," ungkapnya.

Tak hanya hipokalemia, muntah berulang juga berisiko menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit serta asam-basa, peradangan dan luka pada kerongkongan, hingga kerusakan enamel gigi akibat paparan asam lambung. Risiko lainnya adalah tersedak atau masuknya isi lambung ke paru-paru.

Dampaknya juga dapat menyentuh kondisi psikologis. Yunita menjabarkan, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan.

Oleh sebab itu, orang yang mengalami perilaku tersebut perlu mendapatkan penanganan secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi fisik, pola makan, status hidrasi, kondisi psikologis, kadar elektrolit, hingga fungsi ginjal.

"Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh," tuturnya.

Yunita menegaskan, memuntahkan makanan bukan jalan pintas untuk menjadi kurus. Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kenali Penyebab dan Cara Atasi Anoreksia, Ayah-Bunda Waspada Tanda Ini


Most Popular
Features