Pasar Kesehatan RI Terus Tumbuh, Pemerintah Jadi Pembeli Terbesar
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kesehatan Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Pemerintah menjadi pembeli terbesar di sektor ini, terutama melalui pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Wenny Indriasari mencatat, total belanja kesehatan Indonesia pada 2025 mencapai Rp664 triliun. Angka itu pun dikatakan meningkat 17,7% dibandingkan tahun 2020.
"Pesannya jelas bahwa dari grafik ini pasar kesehatan kita terus tumbuh dan pemerintah adalah pembeli terbesarnya," ujar Wenny dalam acara CNBC Indonesia Health Summit 2026 pada panel Discussion 2 dengan tema "Pharmaceutical and Medical Device Innovation for Strengthening Public Health Resilience", Kamis (8/10/2026).
Wenny mengatakan, pertumbuhan pasar kesehatan nasional turut didorong oleh peningkatan belanja pemerintah melalui program JKN. Ia mendata, belanja pemerintah dalam komponen tersebut meningkat dari sekitar Rp93,6 triliun pada 2020 menjadi Rp206,5 triliun pada 2025.
Sementara itu, belanja kesehatan pemerintah daerah menunjukkan kestabilan di kisaran Rp140 triliun hingga Rp150 triliun. Kondisi ini menunjukkan peluang pasar kesehatan tidak hanya bertumpu pada pemerintah pusat, tetapi juga tersebar di berbagai daerah.
"Pendekatan tidak harus ke pemerintah pusat saja, karena ternyata daerah pun mempunyai pocket-nya sendiri," jelasnya.
Besarnya pasar kesehatan Indonesia juga ditopang oleh jumlah penduduk yang mencapai sekitar 290 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 98,3% telah tercakup dalam program JKN.
Kebutuhan layanan kesehatan masyarakat didukung oleh lebih dari 3.300 rumah sakit, 10.300 puskesmas, 20.000 klinik swasta, serta 1.100 laboratorium yang tersebar di Indonesia. Wenny menjelaskan, sebagian besar belanja kesehatan di berbagai fasilitas tersebut dibiayai melalui skema pembiayaan publik.
Hal ini pun yang menjadikan permintaan terhadap produk farmasi dan alat kesehatan relatif besar dan berkelanjutan. Namun, di tengah besarnya potensi pasar domestik, industri kesehatan nasional masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan terhadap produk impor.
Wenny menyebut Indonesia sebenarnya telah memiliki basis industri farmasi dan alat kesehatan yang mampu menembus pasar internasional. Nilai ekspor produk farmasi Indonesia tercatat sekitar US$744 juta, sedangkan ekspor alat kesehatan mencapai US$589 juta. Meski demikian, kebutuhan pasar dalam negeri masih banyak dipenuhi oleh produk impor, terutama untuk bahan baku dan sejumlah produk kesehatan.
"Pasar kita besar, pembelanjaan itu lebih certain, dibelanjakan dari uang pemerintah. Tapi ternyata kapasitas kita juga sudah ada, namun pemenuhannya masih banyak dari produk impor," ungkap Wenny.
Sebagai gambaran, nilai pasar farmasi Indonesia mencapai sekitar Rp145,7 triliun pada 2024. Namun, sekitar 90% kebutuhan bahan baku farmasi masih bergantung pada impor.
Selain persoalan bahan baku, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam memperluas akses terhadap obat-obatan inovatif. Kondisi serupa terjadi pada industri alat kesehatan dan diagnostik yang masih memiliki ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Menurut Wenny, tantangan utama industri kesehatan nasional terletak pada ketergantungan impor di sektor hulu serta inefisiensi pada sektor hilir. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mendorong industri dalam negeri agar dapat mengambil peluang dari besarnya permintaan pasar kesehatan nasional.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat ekosistem riset dan pengembangan, termasuk riset klinis, serta meningkatkan kemampuan manufaktur farmasi dan alat kesehatan. Pemerintah juga menerapkan sejumlah kebijakan untuk memperluas akses pasar produk dalam negeri, antara lain melalui Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan mekanisme katalog konsolidasi.
Dari sisi investasi, pemerintah membuka peluang kepemilikan modal hingga 100% serta menyediakan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal untuk mendorong pengembangan industri kesehatan. Wenny berharap berbagai kebijakan tersebut dapat memperkuat kemampuan produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
"Pesannya sederhana, pasar Indonesia besar dan terus tumbuh, kebijakannya luas, pintunya terbuka, dan pemerintah siap untuk mendampingi," pungkasnya.