BKPM Sebut Investasi di Sektor Kesehatan RI "Seksi", Ini Alasannya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan mengungkap bahwa investasi sektor kesehatan di Indonesia sangat seksi atau menarik. Pasalnya, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar, sehingga tidak heran banyak sejumlah perusahaan masuk ke Indonesia. Contohnya perusahaan biofarmasi asal Jepang Takeda.
Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.
"Populasi Indonesia yang hampir 300 juta, ini hal seksi. Salah satunya yang membuat Takeda tertarik," ujar Nurul dalam acara Health Summit yang digelar CNBCIndonesia di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Selain itu lanjutnya, ketertarikan Takeda di Indonesia juga dilatarbelakangi ketersediaan pasokan plasma di Indonesia yang masih kurang dan belum mencukupi kebutuhan nasional. Sehingga dibutuhkan pembangunan ekosistem plasma dari hulu-hilir.
"Pemerintah juga punya kepentingan berangkat dari pengalaman pada saat COVID kemarin, kita kesulitan sekali untuk bisa mendapatkan plasma sebagai bahan untuk membuat produk yang berkualitas," terangnya.
Sekadar informasi, Takeda sendiri menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar untuk tahap pengembangan awal selama dua tahun. Investasi ini dialokasikan untuk mendirikan beberapa bank plasma di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.
Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam proses penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda, dengan komitmen mengutamakan kebutuhan domestik. Secara paralel, Takeda juga mengkaji pemenuhan regulasi untuk membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di dalam negeri.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Saat ini, Indonesia dan sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis (underdiagnosis) serta terbatasnya kesadaran masyarakat akan kondisi medis yang membutuhkan PODP.