Ciri-Ciri Tempat Kerja 'Toxic' Merusak Mental, Kapan Harus Resign?

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
04 October 2026 11:15
Pergaulan Toxic. (Dok. Freepik)
Foto: Pergaulan Toxic. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Atasan seharusnya membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, tetapi perilaku bos yang toxic justru dapat menjadi sumber stres bagi karyawan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut bahkan bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik.

Melansir Physician Leaders, para ahli menyebut perilaku bos toxic dapat memengaruhi produktivitas, moral tim, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah atasan yang merasa selalu benar dan sulit menerima kritik atau masukan dari bawahannya.

Bos toxic juga cenderung minim empati dan terlalu mementingkan diri sendiri. Mereka dapat mengambil kredit atas hasil kerja bawahan, sementara keberhasilan tim dianggap sebagai pencapaian pribadi.

Ciri lainnya adalah sikap yang tidak konsisten. Atasan bisa memuji karyawan pada satu hari, tetapi kemudian menyalahkannya di hari berikutnya, sehingga membuat bawahan kesulitan memahami ekspektasi dan standar kerja.

Penyalahgunaan jabatan juga menjadi tanda penting. Bos toksik dapat menggunakan kekuasaannya untuk menekan karyawan, menuntut kepatuhan tanpa ruang diskusi, melakukan micromanaging, hingga mengawasi setiap detail pekerjaan secara berlebihan.

Target kerja yang tidak realistis, tenggat waktu tidak masuk akal, serta instruksi yang tidak jelas juga patut diwaspadai. Selain itu, perilaku meremehkan atau mempermalukan karyawan di depan umum, mencari kambing hitam ketika terjadi kesalahan, dan terlalu percaya diri hingga menolak masukan menjadi tanda lain dari lingkungan kerja yang tidak sehat.

Dampaknya Bisa Merembet ke Kesehatan

Bekerja di bawah bos toksik bukan hanya membuat suasana kantor tidak nyaman. Tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan rasa cemas dan takut saat bekerja, menurunkan motivasi, menghilangkan kepercayaan terhadap atasan, serta mendorong keinginan untuk resign.

Dalam kondisi yang lebih serius, lingkungan kerja toksik juga dikaitkan dengan risiko burnout, gangguan kecemasan, depresi, hingga masalah kesehatan fisik seperti tekanan darah tinggi. Karena itu, karyawan disarankan tidak mengabaikan perubahan kondisi mental dan fisik yang muncul akibat tekanan pekerjaan.

Kapan Harus Resign?

Jika menghadapi situasi tersebut, karyawan dapat mulai dengan mencatat interaksi penting dengan atasan dan menyimpan bukti komunikasi melalui email atau pesan tertulis. Berbicara dengan rekan kerja, mentor, atau HR juga dapat menjadi langkah untuk mencari dukungan dan menentukan tindakan berikutnya.

Dialog secara profesional dengan atasan dapat dicoba apabila situasinya memungkinkan. Namun, jika berbagai upaya tidak berhasil dan kondisi kerja terus merusak kesehatan, mencari posisi lain di dalam maupun di luar perusahaan dapat dipertimbangkan.

Para ahli menekankan pentingnya menempatkan kesehatan diri sebagai prioritas. Lingkungan kerja yang terus diwarnai tekanan, intimidasi, atau perilaku merendahkan dalam jangka panjang dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Banyak Anak Muda Menyerah Cari Kerja, Lelah Tebar CV Sana-Sini


Most Popular
Features