Kimpul Lagi Heboh di RI, Profesor IPB Bongkar Hasil Penelitiannya

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
26 September 2026 21:15
Tanaman Kimpul. Pexels
Foto: Tanaman Kimpul. Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Umbi kimpul dinilai memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan secara masif sebagai komoditas pangan lokal andalan. Tanaman ini tidak hanya mudah dibudidayakan dan dapat tumbuh sebagai tanaman sela, tetapi juga memiliki karakter pengolahan yang sangat sederhana.

Mengutip IPB, Sabtu (26/09/2026), Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Titi Candra Sunarti, menyebut bahwa kimpul berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional hingga bahan baku produk pangan bebas gluten (gluten-free).

"Kimpul itu mudah tumbuh dan tidak memerlukan lahan khusus. Tanaman ini juga dapat dijadikan tanaman sela karena tidak terlalu tinggi. Pengolahannya sederhana, bisa direbus atau dikukus dan langsung dikonsumsi," paparnya.

Meski sering dianggap mirip, Titi menjelaskan bahwa kimpul dan talas sejatinya adalah dua tanaman yang berbeda, yang dapat dikenali dari karakter daun dan umbinya. Pada kimpul, umbi utama dapat berkembang menjadi lebih dari satu anak umbi dalam satu tanaman, sementara talas umumnya hanya menghasilkan satu umbi batang saja. Masyarakat di sejumlah daerah juga kerap mengenal umbi ini dengan sebutan belitung atau talas belitung, sehingga pemanfaatannya masih perlu didukung oleh pemahaman penamaan komoditas.

Dari sisi gizi, umbi-umbian secara umum memang memiliki kandungan protein dan lemak yang lebih rendah dibandingkan serealia, sehingga konsumsinya wajib dilengkapi dengan sumber protein lain agar bergizi seimbang. Namun, kimpul memiliki karakter fungsional unggulan di mana kandungan karbohidratnya tak hanya menjadi sumber energi, melainkan mampu memberikan rasa kenyang lebih lama.

"Karakter tersebut membuat kimpul berpotensi dimanfaatkan sebagai bagian dari pola konsumsi yang memperhatikan pengendalian gula darah," tutur Sunarti.

Keunggulan lainnya adalah sifat kimpul yang rendah asam oksalat jika dibandingkan jenis umbi-umbian lain.

"Ada (oksalat), tetapi sedikit. Jadi tidak menimbulkan gatal di mulut," ucapnya.

Senyawa oksalat pada umbi tertentu biasanya berbentuk kristal seperti jarum yang memicu rasa gatal. Kendati kimpul memilikinya dalam jumlah minim, senyawa tersebut tetap dapat dikurangi secara optimal melalui perlakuan sederhana, seperti perendaman dalam air garam atau air kapur, serta proses pemasakan.

Lebih jauh, peluang pengembangan kimpul semakin terbuka lebar jika diarahkan pada produk pangan khusus bebas gluten. Umbi ini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai olahan lezat seperti perkedel dan keripik.

"Kalau produksi berlebih, baru dibuat tepung. Tepung itulah yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan berbagai produk pangan."

Meski potensinya luar biasa, diversifikasi pangan lokal ini masih terganjal oleh realita industri pengolahan, di mana industri tepung berbasis umbi belum berkembang sebesar industri tepung terigu. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok, standardisasi bahan baku yang berkelanjutan, hingga pengembangan produk mutlak diperlukan agar kimpul tak sekadar menjadi pangan lokal pelengkap, melainkan komoditas bernilai ekonomi tinggi di masa depan.

(tps/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Apa Benar Durian Jadi Pemicu Kolesterol? Ini Penjelasan Guru Besar IPB


Most Popular
Features