Terbaru! 10 Kota Ini Jadi yang Terbaik di Dunia

Lynda Hasibuan,  CNBC Indonesia
26 September 2026 12:00
Empire State Building diterangi cahaya merah muda sebagai penghormatan kepada Dolly Parton setelah pengumuman kematiannya pada usia 80 tahun, di New York City, AS, Selasa (25/6/2026). (REUTERS/Jeenah Moon)
Foto: Empire State Building diterangi cahaya merah muda sebagai penghormatan kepada Dolly Parton setelah pengumuman kematiannya pada usia 80 tahun, di New York City, AS, Selasa (25/6/2026). (REUTERS/Jeenah Moon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Apa yang membuat sebuah kota mampu tampil menonjol di panggung dunia? Bukan hanya kekuatan ekonomi, gedung pencakar langit, atau daya tarik wisatanya. Infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, lingkungan, tata kelola, hingga kualitas hidup menjadi bagian penting yang menentukan daya saing sebuah kota.

Hal tersebut tergambar dalam Global Cities Index 2026 yang dirilis Oxford Economics. Indeks ini membandingkan 1.000 kota terbesar di dunia berdasarkan lima kategori utama, yakni ekonomi, modal manusia, kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola.

Dalam pemeringkatan tahun ini, New York kembali berada di posisi pertama, disusul London dan Paris. Delapan dari 10 kota teratas juga tetap sama seperti tahun sebelumnya, menunjukkan konsistensi sejumlah kota global dalam mempertahankan kekuatan ekonomi, sumber daya manusia, serta kualitas kehidupan perkotaan.

Berikut 10 kota dengan peringkat tertinggi dalam Global Cities Index 2026:

1. New York, Amerika Serikat

2. London, Inggris

3. Paris, Prancis

4. Seattle, Amerika Serikat

5. San Francisco, Amerika Serikat

6. Dublin, Irlandia

7. Boston, Amerika Serikat

8. San Jose, Amerika Serikat

9. Tokyo, Jepang

10. Zurich, Swiss

Bukan Sekadar Kota dengan Ekonomi Besar

Menurut Oxford Economics, kota-kota yang berada di posisi teratas memiliki karakteristik yang relatif beragam. Namun, terdapat sejumlah faktor yang membuat mereka mampu mempertahankan daya tarik bagi penduduk, pekerja, pelaku bisnis maupun pengunjung.

Salah satunya adalah kemampuan menarik sumber daya manusia berkualitas dari berbagai penjuru dunia.

Kategori Human Capital dalam indeks tersebut mencakup kekuatan tenaga kerja, keterampilan, pendidikan, serta kemampuan sebuah kota untuk menarik, mengembangkan dan mempertahankan talenta.

London menjadi contoh paling menonjol. Ibu kota Inggris tersebut menempati posisi pertama dalam kategori modal manusia. Keberadaan universitas ternama, kantor pusat perusahaan global, serta tenaga kerja yang sangat terampil menjadi bagian dari kekuatan London.

Boston juga memiliki keunggulan pada aspek ini. Konsentrasi universitas dan perguruan tinggi membuat kota tersebut memiliki basis ekonomi berbasis pengetahuan yang kuat.

Sementara itu, Dublin berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi penting Eropa dengan pertumbuhan GDP dan lapangan kerja yang kuat. Kota ini juga mencatat performa tinggi dalam kategori lingkungan.

Budaya Menjadi Bagian dari Daya Tarik Kota

Kekuatan ekonomi saja tidak cukup untuk membentuk sebuah kota yang memiliki kualitas hidup tinggi.

Paris, yang berada di peringkat ketiga secara keseluruhan, menjadi salah satu contohnya. Kota ini memperoleh skor tinggi dalam kategori kualitas hidup. Oxford Economics menyoroti kombinasi antara kesejahteraan penduduk dan akses terhadap berbagai fasilitas rekreasi serta budaya yang tersedia di ibu kota Prancis tersebut.

Seattle juga masuk dalam empat besar. Kota di Amerika Serikat ini memperoleh skor kualitas hidup yang kuat, sekaligus memiliki ekosistem seni dan budaya yang berkembang.

Selain itu, sejarah musik Seattle, termasuk kaitannya dengan perkembangan musik grunge, turut menjadi bagian dari identitas kota. Kehadiran ruang publik dan kawasan waterfront yang terus dikembangkan juga memperkuat pengalaman perkotaan.

Kota Besar Dituntut Lebih Bersih dan Nyaman

Pertumbuhan ekonomi dan daya tarik budaya tidak akan banyak berarti jika sebuah kota memiliki masalah lingkungan serius atau sulit dinavigasi.

Karena itu, lingkungan menjadi salah satu dari lima kategori yang digunakan Oxford Economics dalam menyusun indeks tersebut. Penilaiannya tidak hanya melihat kondisi lingkungan, tetapi juga aspek keberlanjutan dan kualitas lingkungan perkotaan.

London, misalnya, mencatat performa lingkungan yang cukup kuat untuk sebuah kota metropolitan dengan skala sangat besar. Kebijakan transportasi dan pengendalian emisi menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak kendaraan serta polusi.

San Francisco juga memperoleh nilai tinggi dalam kategori lingkungan. Sistem transportasi kota menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Dublin bahkan mencatat skor 90,9 untuk kategori lingkungan, menjadi salah satu nilai tertinggi di antara 10 kota teratas.

Teknologi Membentuk Kota Masa Depan

Faktor lain yang semakin penting adalah kemampuan kota beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan ekonomi.

San Jose, yang berada di peringkat kedelapan, menjadi contoh kuat. Kota ini memiliki konsentrasi perusahaan teknologi besar di kawasan Silicon Valley. Oxford Economics mencatat San Jose memiliki GDP per kapita tertinggi di antara 1.000 kota yang masuk dalam indeks.

San Francisco juga berada dalam ekosistem teknologi yang sama. Perusahaan-perusahaan teknologi besar dan perkembangan teknologi transportasi baru menjadi bagian dari perubahan yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.

Tidak hanya kota-kota Amerika Serikat. Tallinn, ibu kota Estonia, masuk dalam kategori Cities to Watch yang diperkenalkan dalam indeks 2026. Oxford Economics menyoroti momentum ekonomi dan teknologi Tallinn serta potensinya untuk terus berkembang.

Asia Mulai Menunjukkan Pengaruh yang Semakin Besar

Meski posisi teratas masih didominasi kota-kota Amerika Utara dan Eropa, Oxford Economics juga mencatat adanya perubahan peta ekonomi perkotaan dunia.

Kota-kota besar Asia disebut semakin penting dalam tren pertumbuhan global. Oxford Economics memperkirakan kota-kota di China dan India akan menjadi bagian penting dari pertumbuhan tersebut, didukung oleh populasi besar, peningkatan produktivitas, dan pertumbuhan pendapatan.

Tokyo menjadi satu-satunya kota Asia yang masuk 10 besar pada indeks 2026, dengan posisi kesembilan. Kota ini juga mencatat skor tinggi dalam kategori modal manusia dan tata kelola.

Pada saat yang sama, sejumlah kota lain mulai mendapat perhatian melalui kategori Cities to Watch. Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City, Shenzhen, Bengaluru hingga Tallinn termasuk kota yang dipantau karena memiliki momentum pertumbuhan yang dinilai berpotensi meningkatkan posisi mereka pada masa mendatang.

Pada akhirnya, Global Cities Index 2026 menunjukkan bahwa kota kelas dunia tidak dibentuk oleh satu faktor saja. Kekuatan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, kehidupan masyarakat, lingkungan, serta tata kelola saling berkaitan dalam menentukan posisi sebuah kota.

Bagi kota-kota yang sudah berada di puncak, tantangannya adalah mempertahankan keunggulan tersebut. Sementara bagi kota yang sedang berkembang, investasi pada manusia, teknologi, infrastruktur, lingkungan, dan kualitas hidup dapat menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa jauh mereka mampu mengejar para pemimpin global.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features