Ciri-Ciri Toxic Positivity: Saat Teman Curhat, Buru-Buru Kasih Nasihat

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
11 September 2026 14:25
Man fired from job sitting hold the head with hand and worried stressed face expression outside office
Foto: Ilustrasi (Designed by Waewkidja / Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika teman, keluarga, atau orang terdekat curhat soal masalah yang dihadapi, respons pertama yang sering muncul mungkin adalah memberi semangat "Kamu harus kuat."

Kalimat itu terdengar positif. Namun, psikolog mengingatkan respons tersebut belum tentu menjadi hal yang dibutuhkan seseorang ketika sedang mengalami krisis psikologis. Psikolog Annelia Sari Sani bilang, seseorang yang berada dalam kondisi krisis justru membutuhkan kehadiran dan koneksi terlebih dahulu sebelum mampu menerima solusi.

Anne bilang, kalimat seperti "kamu harus kuat" dapat menjadi bentuk toxic positivity. Alih-alih membuat seseorang merasa lebih baik, perkataan tersebut bisa membuat orang yang sedang mengalami masalah merasa perjuangannya tidak dipahami.

"Kamu harus kuat. Ini adalah kata-kata yang sangat toxic positivity. Seolah-olah positif tapi sebenarnya beracun," kata Anne dalam Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri di Kementerian Kesehatan, Jakarta belum lama ini.

Jangan Langsung Kasih Nasihat

Ketika seseorang mengatakan "saya sudah tidak kuat", Anne menyarankan orang di sekitarnya tidak terburu-buru memberikan nasihat atau membandingkan masalah yang sedang dihadapi. Sebaliknya, langkah pertama adalah hadir dan memberikan ruang aman agar orang tersebut dapat berbicara.

Anne memberikan tiga langkah ketika merespons seseorang dalam kondisi krisis, yakni hadir, validasi, dan hubungkan dengan bantuan.

Kalimat sederhana seperti "Saya di sini. Kita bisa bicara pelan-pelan", "Saya bisa membayangkan ini terasa sangat berat", hingga "Kita cari bantuan bersama" dapat digunakan untuk membuka ruang tersebut. Sementara itu, beberapa respons yang sebaiknya dihindari antara lain "kamu harus bersyukur", "banyak orang lebih susah", "jangan berpikir negatif", maupun "ingat keluarga".

"Kita enggak lagi adu derita di sini," kata Anne.

Ia menekankan, orang yang berada dalam krisis membutuhkan koneksi dan perasaan bahwa ada orang lain yang memahami kondisinya, bukan langsung diberikan sederet solusi. Selain cara merespons, orang terdekat juga dapat memperhatikan perubahan perilaku.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain menarik diri dari orang lain, perubahan perilaku yang cukup nyata, terlihat sangat putus asa atau kewalahan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya bermakna, mengatakan dirinya menjadi beban, hingga berbicara mengenai kematian atau tidak ingin hidup.

Namun, Anne menegaskan tanda tersebut tidak otomatis berarti seseorang akan melakukan tindakan bunuh diri. Perubahan yang mengkhawatirkan seharusnya menjadi alasan bagi orang terdekat untuk mendekat, bukan menjauh.

Jika khawatir, Anne bilang, tidak perlu takut bertanya secara langsung dan tenang apakah orang tersebut sedang terpikir menyakiti diri atau mengakhiri hidup.

"Bertanya bukan berarti menanamkan ide. Bertanya berarti membuka pintu," kata ja.

Setelah itu, dengarkan tanpa menghakimi dan hubungkan dengan bantuan yang tepat apabila diperlukan. Layanan Healing 119 dapat diakses melalui telepon 119 ekstensi 8 maupun kanal digital Healing119.id.

Layanan tersebut ditujukan sebagai pertolongan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau kondisi krisis psikologis lainnya.

 

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ariana Grande Blak-Blakan Alasan Mau Hiatus Panjang


Most Popular
Features