Tanpa Masker, Begini Cara Efektif Lindungi Diri dari Abu Vulkanik
Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik telah memicu panic buying masker di sejumlah wilayah, termasuk DKIÂ Jakarta. Akibatnya, banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan masker untuk melindungi diri dari paparan abu.Â
Perlu diketahui, abu vulkanik terdiri atas pecahan batuan gunung api berdiameter kurang dari 2 milimeter, ukurannya bisa menyerupai butiran pasir hingga sangat halus seperti bedak, menurut International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN).
Abu biasanya masih panas ketika berada sangat dekat dengan gunung api, tetapi telah mendingin saat jatuh di wilayah yang lebih jauh. Ketika melayang di udara, material tersebut dapat menghalangi sinar matahari, mengurangi jarak pandang, bahkan menyebabkan suasana gelap pada siang hari.
Partikel abu yang baru jatuh juga dapat memiliki lapisan asam yang memicu iritasi paru-paru dan mata. Lapisan tersebut umumnya akan hilang setelah terkena hujan, tetapi air hujan yang membawa abu berpotensi mencemari sumber air di sekitar lokasi.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik tanpa Masker
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus berlanjut mulai berdampak langsung ke wilayah daratan Lampung, Minggu (6/9/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Â |
IVHHN menyarankan masyarakat tetap berada di dalam rumah jika memungkinkan dan menutup pintu serta jendela. Aktivitas berkendara juga perlu dibatasi karena kendaraan dapat menerbangkan kembali abu yang telah mengendap.
Apabila harus berkendara, kurangi kecepatan dan jaga jarak lebih jauh dengan kendaraan di depan. Hujan memang dapat memperbaiki kualitas udara untuk sementara, tetapi abu bisa kembali beterbangan setelah mengering.
Jika masker standar tidak tersedia, kain dapat digunakan sebagai pelindung sementara untuk menyaring partikel yang lebih besar. Basahi kain dengan sedikit air agar meningkatkan kemampuannya dalam menyaring abu.
Anak-anak Perlu Mendapat Perhatian Khusus
Anak menghadapi risiko serupa dengan orang dewasa, tetapi dapat terpapar lebih banyak karena tubuhnya lebih kecil dan belum mampu menerapkan tindakan pencegahan secara konsisten.
Saat abu masih berada di udara, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dan tidak melakukan aktivitas berat seperti berlari. Aktivitas fisik membuat anak bernapas lebih cepat sehingga partikel halus dapat masuk lebih dalam ke paru-paru.
Jika harus keluar rumah, anak perlu memakai masker dengan ukuran yang sesuai. Mereka juga harus dijauhkan dari area yang memiliki tumpukan abu tebal dan tidak diperbolehkan bermain dengan material tersebut.
Cara Membersihkan Abu Vulkanik
Dalam membersihkan endapan abu di lantai atau di permukaan mobil, abu dapat dibasahi sedikit sebelum disekop agar tidak kembali beterbangan.
Namun, abu di atas atap tidak boleh dibuat terlalu basah karena tambahan beban air dapat meningkatkan risiko atap roboh. Menyapu abu dalam keadaan kering juga tidak disarankan karena dapat meningkatkan paparan secara tajam.
Sementara itu air yang terkena hujan abu ringan umumnya masih dapat diminum setelah partikelnya disaring. Namun, abu bisa memengaruhi rasa air dan mengganggu proses desinfeksi sehingga meningkatkan risiko kontaminasi mikrobiologis.
Masyarakat di kawasan rawan erupsi disarankan menyimpan persediaan air minum setidaknya untuk satu minggu. Kebutuhannya sekitar 3 sampai 4 liter per orang setiap hari.
Bagi rumah tangga yang mengandalkan air hujan, tangki perlu ditutup dan saluran dari atap sebaiknya diputus sebelum hujan abu terjadi. Sementara itu, sayuran yang tertutup abu masih aman dikonsumsi setelah dicuci menggunakan air bersih.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]