Pecah Rekor! Ginjal Babi Bertahan 271 Hari di Tubuh Manusia

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
04 September 2026 18:15
Ginjal Babi. (Dok. University of Minnesota)
Foto: Ginjal Babi. (Dok. University of Minnesota)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia medis kembali mencatat perkembangan dalam transplantasi organ lintas spesies. Ginjal dari babi hasil rekayasa genetik berhasil berfungsi di dalam tubuh seorang pria Amerika Serikat (AS) selama 271 hari, yang menjadi periode terlama yang pernah tercatat.



Pasien tersebut adalah Tim Andrews. Ia mengatakan transplantasi itu memberinya "harapan" sekaligus membuatnya terbebas selama berbulan-bulan dari rutinitas pergi ke rumah sakit untuk menjalani dialisis atau cuci darah.

Melansir BBC International, Jumat (4/9/2026), tim dokter Mass General Brigham mengatakan kasus tersebut menunjukkan organ babi berpotensi digunakan sebagai "jembatan" sampai pasien mendapatkan organ donor manusia. Meski demikian, ginjal babi yang diterima Andrews akhirnya mengalami kegagalan dan harus diangkat.

Ia kembali menjalani dialisis untuk sementara waktu sebelum mendapatkan ginjal dari donor manusia. Para dokter dan ilmuwan saat ini terus mengembangkan xenotransplantation atau xenotransplantasi, yakni transplantasi sel, jaringan, atau organ dari satu spesies ke spesies lain, sebagai salah satu solusi atas kekurangan organ donor manusia.

Di AS, sekitar 100.000 orang menunggu transplantasi ginjal, sementara hanya sekitar 25.000 transplantasi yang dilakukan setiap tahunnya. Sementara di Inggris, lebih dari 7.000 orang berada dalam daftar tunggu transplantasi ginjal.

Andrews sebelumnya diberi tahu bahwa dirinya mungkin harus menunggu hingga tujuh tahun untuk mendapatkan ginjal. Di sisi lain, rata-rata pasien bertahan hidup sekitar lima tahun dengan dialisis.

"Saya sedikit kekurangan waktu... itu menjadi sangat menyedihkan," kata Andrews.

Ia pun menggambarkan kesempatan mendapatkan ginjal babi sebagai sebuah harapan dan "cahaya di ujung terowongan".

"Harapan adalah hal terbesar, kesempatan untuk terbebas dari mesin [dialisis] dan menjalani hidup Anda," ujarnya.

Babi Direkayasa Genetik
Babi dianggap sebagai salah satu hewan yang paling potensial untuk xenotransplantasi. Salah satu alasannya adalah ukuran organ babi yang relatif sesuai dengan manusia serta panjangnya pengalaman manusia dalam membiakkan hewan tersebut.

Namun, organ babi biasa tidak dapat begitu saja ditransplantasikan ke tubuh manusia. Sistem kekebalan tubuh manusia akan mengenali organ tersebut sebagai benda asing dan melancarkan respons imun yang sangat kuat.

Kondisi itu dapat menghancurkan organ yang ditransplantasikan dalam waktu sangat singkat. Sehingga, para peneliti mengembangkan babi mini Yucatan yang menjalani 69 modifikasi genom untuk membuat organnya lebih kompatibel dengan tubuh manusia.

Sejumlah modifikasi dilakukan untuk menghilangkan karakteristik sel babi yang dapat dikenali dan diserang sistem kekebalan manusia. Peneliti juga menambahkan sejumlah DNA manusia untuk membantu organ tersebut menghindari serangan sistem imun. Modifikasi lainnya dilakukan untuk menonaktifkan virus yang tersembunyi di dalam DNA babi guna mengurangi risiko infeksi.

Bertahan 271 Hari
Andrews mengalami penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2. Fungsi ginjalnya terus menurun hingga akhirnya membutuhkan transplantasi.

Ia berusia 66 tahun ketika menjalani xenotransplantasi pada 25 Januari 2025. Berdasarkan laporan yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, ginjal babi tersebut langsung bekerja setelah ditransplantasikan.

Organ itu kemudian terus berfungsi selama 271 hari, sebelum akhirnya diangkat pada Oktober 2025. Setelah ginjal babi dikeluarkan, Andrews kembali menjalani dialisis selama 82 hari.

Pada Januari 2026, ia akhirnya menerima transplantasi ginjal dari donor manusia. Ginjal tersebut dilaporkan berfungsi dengan baik. Dr. Leonardo Riella dari Center for Transplantation Sciences di Mass General Brigham mengatakan kekurangan organ donor telah menciptakan kondisi yang serius bagi pasien.

"Kami sedang berada dalam krisis," ujarnya. "Kami bekerja sangat keras untuk memberikan harapan dan kami benar-benar merasa xenotransplantasi dapat menjadi alternatif bagi pasien yang tidak memiliki donor hidup, di mana kami berpotensi melewati dialisis dan membawa mereka menuju transplantasi," lanjut Riella.

Perjalanan transplantasi Andrews bukan tanpa masalah. Pada tahap awal, dokter menemukan tanda-tanda bahwa sistem kekebalan tubuhnya mulai menolak ginjal babi tersebut. Kondisi itu berhasil ditangani dengan menyesuaikan obat-obatan yang dikonsumsinya.

Namun, sekitar enam bulan setelah transplantasi, pembuluh darah pada ginjal mulai mengalami kerusakan. Organ tersebut juga mengalami peradangan sebelum akhirnya fungsi ginjal mulai menurun. Penyebab pastinya belum diketahui. Dokter tidak menemukan tanda-tanda antibodi menyerang ginjal babi tersebut.

Dalam laporan yang diterbitkan di The Lancet, tim dokter menilai kasus Andrews menunjukkan potensi besar xenotransplantasi ginjal, tetapi sekaligus memperlihatkan tantangan yang masih harus diatasi.

"Kasus ini menggambarkan harapan sekaligus tantangan yang masih tersisa dalam xenotransplantasi ginjal klinis," tulis para dokter.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 7 Tanda Awal Diabetes yang Sering Diabaikan, Termasuk Sering Lapar


Most Popular
Features