Imbas Kebakaran Hutan, Kasus ISPA di Kalimantan Naik Tajam

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
28 August 2026 14:50
Warga yang mengenakan masker pelindung berjalan di tepi Sungai Kapuas saat kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti kawasan tersebut di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, pada 27 Agustus 2026.(REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Warga yang mengenakan masker pelindung berjalan di tepi Sungai Kapuas saat kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti kawasan tersebut di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, pada 27 Agustus 2026. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam paparan Kemenkes per 25 Agustus 2026, kasus ISPA di Kalimantan Barat tercatat mencapai 165.747 kasus dalam kurun tujuh bulan, sementara Kalimantan Selatan mencatat sekitar 18.423 kasus, disusul Kalimantan Tengah yang mencatat lebih dari 3.000 kasus hanya dalam rentang 10 hingga 16 Agustus. Tren peningkatan juga terpantau di Riau.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat distribusi masker dan oksigen konsentrator ke puskesmas-puskesmas di daerah terdampak.

"Kita sudah mengirim dropping masker yang banyak. Yang kedua, oksigen konsentrator. Jadi kita akan dropping oksigen konsentrator dan masker ke puskesmas-puskesmas yang terdampak dan itu akan kita percepat," kata Budi saat ditemui wartawan di Jakarta usai rapat dengan Komis IX DPR, Kamis (27/8/2026).

Budi mengatakan, Kemenkes telah memiliki data mengenai puskesmas-puskesmas di wilayah dengan jumlah pasien yang tinggi. "Saya ada datanya puskesmas-puskesmas mana yang banyak korbannya. Itu yang kita akan prioritaskan ke sana," ujarnya.

Data Kemenkes juga menunjukkan sekitar 3,4 juta penduduk terdampak karhutla di tujuh provinsi. Sebanyak 321 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung pelayanan di rumah sakit maupun puskesmas.

Kemenkes sebelumnya memetakan tujuh provinsi dengan risiko sangat tinggi terhadap dampak kesehatan pada musim kemarau 2026, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Asap Karhutla Bisa Perparah ISPA

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Dr. dr. Then Suyanti MM menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa organik beracun. Paparan tersebut dapat menyebabkan atau memperburuk gangguan pernapasan seperti ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga gangguan pernapasan pada anak.

"Kelompok yang dinilai paling rentan terhadap paparan asap antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan," katanya dalam briefing media belum lama ini.

Berdasarkan pemantauan Kemenkes per 22 Agustus, kualitas udara di sejumlah wilayah bahkan telah masuk kategori berbahaya. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Muaro Jambi tercatat 302, sementara salah satu titik pemantauan di Kalimantan Tengah mencapai 573. Sejumlah wilayah lain di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah berada pada kategori sangat tidak sehat.

Selain masker dan oksigen konsentrator, pemerintah telah mendistribusikan tabung oksigen, alat pelindung diri, hingga pemberian makanan tambahan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia.

Masyarakat di daerah terdampak juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker apabila terpaksa beraktivitas di luar, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan kesehatan.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Karhutla Memburuk, Kemenkes Siapkan Opsi Sekolah Online


Most Popular
Features