Gen Z Makin Sering 'Doomspending', Nyaris Tak Pernah Menabung
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan menghabiskan uang demi kesenangan sesaat atau dikenal sebagai doomspending semakin banyak ditemukan di kalangan Generasi Z (Gen Z). Fenomena ini membuat sebagian anak muda kesulitan membangun tabungan untuk menghadapi kondisi darurat.
Survei yang dilakukan pengembang aplikasi fintech Frich menemukan 47% responden Gen Z tidak memiliki dana darurat. Temuan tersebut diperoleh melalui analisis anonim terhadap komunitas Frich yang terdiri dari satu juta pengguna Gen Z.
Analisis itu melihat pandangan anak muda mengenai target menabung, tekanan finansial, hingga sikap mereka ketika menghadapi kondisi keuangan darurat.
Pakar keuangan pribadi sekaligus Certified Financial Planner (CFP) Bobbi Rebell menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai tekanan ekonomi yang dihadapi generasi muda dalam beberapa tahun terakhir.
"Masuk akal jika mereka merasa seperti itu, mengingat berbagai kemunduran ekonomi selama beberapa tahun terakhir," kata Rebell, dikutip dari Fortune, Kamis (20/8/2026).
Gen Z Terjebak 'Doomspending'
Istilah doomspending merujuk pada perilaku menghabiskan uang, terutama untuk barang atau pengalaman yang memberikan kepuasan instan, ketika seseorang merasa pesimistis atau tidak memiliki kendali atas kondisi ekonomi dan masa depannya.
Ketidakpastian ekonomi, gejolak politik, hingga tingginya penggunaan media sosial disebut ikut memengaruhi perilaku tersebut.
Bagi sebagian Gen Z, menabung bahkan terasa sia-sia. Mereka merasa kekhawatiran finansial yang dihadapi sering kali tidak dipahami, sementara nasihat keuangan yang diterima dianggap tidak sesuai dengan realitas kehidupan mereka.
Kondisi tersebut membuat banyak anak muda beralih mencari informasi keuangan dari sumber yang tidak konvensional, mulai dari influencer TikTok hingga komunitas daring.
Tekanan finansial Gen Z juga terlihat dalam laporan terbaru Bankrate mengenai tabungan darurat. Sebanyak 27% Gen Z tercatat memiliki utang yang jumlahnya lebih besar dibandingkan tabungan mereka.
Padahal, mereka tetap memiliki berbagai target finansial jangka panjang. Data Frich menunjukkan lebih dari 20% Gen Z ingin menabung untuk membeli rumah pertama.
Co-founder sekaligus Chief Product Officer Frich Aleksandra Medina mengatakan situasi ekonomi saat ini membuat Gen Z semakin sulit memprioritaskan tabungan.
"Banyak Gen Z berada dalam situasi keuangan yang serba sulit, terjebak antara membayar kebutuhan saat ini atau menyisihkan uang untuk keadaan darurat dan membeli barang menggunakan kredit," ujar Medina.
Ketika berbagai target finansial terasa semakin sulit dicapai, sebagian anak muda akhirnya memilih mengeluarkan uang untuk pengalaman atau barang yang bisa memberikan kepuasan secara langsung.
Saat Darurat, Pilih Utang atau Minta Keluarga
Ilustrasi Investasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Investasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Riset Frich menunjukkan hampir sepertiga Gen Z akan meminta bantuan anggota keluarga ketika mengalami masalah keuangan mendadak. Sementara itu, sekitar 25% memilih mengambil utang tambahan.
Rebell mengatakan anak muda perlu mempertimbangkan kembali dampak dari pembelian impulsif, termasuk bagaimana perasaan mereka setelah berbelanja dan berapa lama rasa senang tersebut bertahan.
Mereka juga perlu memikirkan bagaimana menghadapi keadaan darurat apabila tidak mempunyai tabungan serta seberapa sulit melunasi utang apabila harus kembali meminjam uang. Menurut Rebell, pendekatan terhadap Gen Z juga tidak bisa hanya berupa ceramah tentang pentingnya menabung.
"Kuncinya adalah mendengarkan, bukan menggurui," ujarnya.
Sudah Punya Dana Darurat, Tapi Masih Tipis
Ilustrasi dana darurat (Freepik) Foto: Ilustrasi dana darurat (Freepik) |
Dari survei Frich, sebanyak 53% responden mengaku sudah memiliki dana darurat. Namun, jumlah yang dikumpulkan rata-rata masih kurang dari US$7.000 atau sekitar Rp114 juta jika menggunakan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS.
Dana tersebut memang tidak sedikit. Namun, kebutuhan besar seperti kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau pengeluaran tak terduga lainnya dapat menguras tabungan dalam waktu relatif singkat.
Rebell menyarankan anak muda mulai membangun tabungan secara otomatis, terutama melalui rekening yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Jumlahnya tidak harus langsung besar. Seseorang dapat memulai dari US$20 hingga US$40 atau sekitar Rp326 ribu sampai Rp652 ribu setiap menerima gaji, kemudian meningkatkan jumlahnya secara bertahap.
Dana darurat juga harus mudah dicairkan ketika dibutuhkan. Presiden United Financial Planning Group Gerry Barrasso mengingatkan bahwa likuiditas menjadi salah satu faktor terpenting dalam memilih tempat menyimpan dana tersebut.
"Dana darurat harus likuid, kalau tidak maka tidak ada gunanya. Anda harus bisa mengakses uang tersebut dengan segera," kata Barrasso.
Menurutnya, rekening tabungan dengan biaya rendah atau tanpa biaya serta rekening pasar uang dapat menjadi pilihan. Menyimpan seluruh dana di rekening giro memang memberikan akses cepat, tetapi biasanya tidak menghasilkan bunga yang optimal.
Medina menilai meningkatnya tekanan finansial membuat Gen Z memiliki ruang yang lebih sempit untuk menabung dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.
Persoalan tersebut sebenarnya tidak hanya dialami Gen Z. Bankrate mencatat hampir sepertiga warga Amerika Serikat memiliki utang kartu kredit yang lebih besar daripada jumlah tabungan mereka.
Meski demikian, membangun dana darurat tetap dapat dimulai dari nominal kecil. Konsistensi menabung dan memanfaatkan instrumen yang sesuai dinilai dapat membantu memperkuat kondisi finansial di tengah tekanan biaya hidup.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
