Ratusan orang mengikuti pesta kolam renang malam "Silent Wave" di Seoul, Korea Selatan, untuk menikmati udara lebih sejuk di tengah gelombang panas ekstrem.
Ratusan orang memadati acara "Silent Wave" di Alun-alun Gwanghwamun, Seoul, Korea Selatan, Jumat (7/8/2026). Acara tersebut merupakan pesta kolam renang malam hari yang digelar di tengah gelombang panas yang berkepanjangan melanda Korea Selatan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Para peserta tampak menari sambil mengenakan headphone nirkabel. Selain menjadi hiburan, kegiatan yang digelar pada malam hari itu menjadi salah satu cara masyarakat menikmati suhu yang lebih sejuk di tengah cuaca panas ekstrem. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
"Silent Wave" berlangsung di salah satu ruang publik paling ikonik di Seoul yang dikelilingi berbagai situs bersejarah dan gedung pemerintahan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Seoul memanfaatkan kawasan pusat kota sebagai ruang rekreasi musiman sekaligus tempat warga untuk beraktivitas dan menyejukkan diri. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Pemerintah Kota Seoul selaku penyelenggara menyebut seluruh 450 tiket reservasi awal telah habis terjual sebelum acara dimulai. Tingginya penjualan tiket tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan rekreasi di tengah puncak musim panas. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Acara "Silent Wave" merupakan bagian dari program "Seoul Summer Beach 2026" yang menghadirkan beragam kegiatan selama musim panas. Program tersebut ditujukan untuk membantu warga dan wisatawan menikmati suasana ibu kota sekaligus menyediakan ruang rekreasi perkotaan yang menyegarkan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Di tengah berlangsungnya berbagai kegiatan tersebut, Korea Selatan masih menghadapi gelombang panas yang cukup serius. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyebut kondisi tersebut sebagai "bencana nasional" dan pada Kamis (6/8/2026) memerintahkan penanganan secara maksimal setelah jumlah kematian yang berkaitan dengan suhu panas meningkat menjadi 21 orang. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)