Studi: Pria Insecure Anggap Penting Punya Penis Besar
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru mengungkap, pria yang merasa tidak percaya diri dengan maskulinitasnya cenderung menganggap ukuran penis besar sebagai sesuatu yang penting. Penelitian ini juga menemukan kecenderungan serupa pada pria yang mendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Melansor Psy Post, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Men & Masculinities itu menjelaskan, bagi sebagian pria, penis bukan sekadar organ reproduksi, tetapi juga dipandang sebagai simbol status, dominasi, dan kejantanan. Keinginan memiliki penis yang lebih besar disebut sebagian dipicu oleh rasa malu atau terhina karena merasa gagal memenuhi ekspektasi sosial tentang bagaimana seharusnya menjadi laki-laki.
Peneliti melakukan empat studi yang melibatkan ratusan pria heteroseksual di Amerika Serikat. Pada studi pertama, peneliti mengembangkan alat ukur bernama Penis Size Value Scale untuk mengetahui seberapa penting peserta menganggap ukuran penis besar. Hasilnya menunjukkan, pria yang mengalami stres karena merasa tidak memenuhi standar maskulinitas lebih cenderung menganggap ukuran penis sebagai hal yang penting. Mereka juga memiliki tingkat dominasi, kemarahan, dan agresivitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan antara pandangan tersebut dengan frekuensi aktivitas seksual maupun konsumsi pornografi.
Studi kedua memperkuat temuan tersebut. Bahkan setelah memperhitungkan faktor dominasi dan agresivitas, rasa insecure terhadap identitas sebagai laki-laki tetap menjadi prediktor utama yang membuat seseorang lebih mengagungkan ukuran penis besar.
Penelitian ini juga menemukan pria yang menganggap ukuran penis penting lebih sering merasa malu terhadap ukuran penisnya sendiri dan lebih terdorong melakukan berbagai upaya untuk memperbesarnya.
Pada studi ketiga, peneliti menambahkan faktor pandangan politik dan agama. Hasilnya menunjukkan, pria yang menganggap ukuran penis besar penting cenderung memiliki tingkat religiositas lebih tinggi dan lebih banyak mendukung Donald Trump. Meski demikian, peneliti menegaskan hubungan tersebut tampaknya sebagian besar dijelaskan oleh rasa insecure terhadap maskulinitas. Dengan kata lain, faktor psikologis itulah yang menjadi pendorong utama, bukan preferensi politik atau agama itu sendiri.
Sementara itu, studi keempat menggunakan metode eksperimen. Para peserta diminta mengingat pengalaman ketika mereka merasa gagal memenuhi standar maskulinitas. Hasilnya, kelompok tersebut mengalami rasa terhina yang lebih besar dan menunjukkan peningkatan keinginan memiliki penis berukuran lebih besar.Â
Meski demikian, peneliti mengingatkan studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Seluruh responden merupakan pria heteroseksual asal Amerika Serikat sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk budaya atau kelompok lain.
Penelitian ini juga tidak bertujuan menilai apakah pria puas atau tidak dengan ukuran penisnya sendiri, melainkan meneliti bagaimana ancaman terhadap maskulinitas memengaruhi cara pria memandang pentingnya ukuran penis secara umum.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]