Belanja Kesehatan Baru 2,9% PDB, RI Bidik Investasi Sektor Kesehatan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah membidik investasi di sektor kesehatan untuk memperkuat layanan kesehatan nasional sekaligus mempercepat transformasi industri kesehatan.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan, investasi di sektor kesehatan tidak hanya bergantung pada modal dan operasional perusahaan, tetapi juga kesiapan ekosistem yang mendukung. Ia bilang, pemerintah saat ini tengah membangun ekosistem tersebut melalui penguatan pendidikan tenaga kesehatan, riset, pembangunan rumah sakit, perluasan layanan BPJS Kesehatan, hingga program pemeriksaan kesehatan gratis yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan layanan kesehatan ke depan.
"Kami mengundang seluruh mitra untuk menjadi mitra strategis pemerintah. Datanglah kepada kami sebelum masalah menjadi hambatan," kata Pratikno saat membuka Indonesia Partnering Days 2026 yang diselenggarakan Novo Holdings di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Pratikno menegaskan, Indonesia membutuhkan kolaborasi dengan investor global untuk mengembangkan talenta, riset, teknologi, diagnostik, serta memperluas akses layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rizka Andalucia mendata, belanja kesehatan Indonesia baru mencapai sekitar Rp614 triliun atau setara 2,9% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2023. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang pertumbuhan sektor kesehatan di Indonesia.
Selain itu, pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia juga masih relatif rendah, yakni sekitar US$140, dibandingkan Malaysia sekitar US$450 dan Singapura yang mencapai sekitar US$4.000.
"Ini menunjukkan satu hal penting, Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk tumbuh," ujar Rizka.
Rizka mengatakan, pemerintah tengah mempercepat transformasi kesehatan melalui digitalisasi. Salah satu upaya yang dilakukan ialah membangun ekosistem kesehatan digital nasional yang menghubungkan puskesmas, rumah sakit, laboratorium, klinik, hingga institusi kesehatan masyarakat.
"Platform Satu Sehat misalnya, menjadi tulang punggung integrasi data kesehatan nasional. Saat ini lebih dari 56.000 fasilitas kesehatan telah terhubung ke platform tersebut dan lebih dari 40.000 fasilitas aktif mengirimkan data," kata ia.
Selain digitalisasi, pemerintah juga mulai mengembangkan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), robotika kesehatan, hingga teknologi genomik. Rizka menegaskan, teknologi tersebut bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan membantu meningkatkan akurasi diagnosis, mempercepat pelayanan, serta memperkuat pengambilan keputusan klinis.
Di sisi lain, Indonesia juga memperkuat kemandirian industri kesehatan dalam negeri. Sejak pandemi Covid-19, jumlah produsen vaksin domestik meningkat dari satu menjadi empat perusahaan. Kapasitas produksi vaksin nasional pun naik dari 2,5 miliar dosis menjadi 3,6 miliar dosis per tahun.
Saat ini, sebanyak 10 dari 14 antigen dalam program imunisasi nasional telah diproduksi di dalam negeri. Menurut Rizka, perkembangan tersebut membuka peluang kolaborasi bagi investor di bidang pengembangan vaksin, produk biologis, hingga bio-manufaktur.
Ia menambahkan, pemerintah menyambut investasi yang tidak hanya berorientasi pada pasar, tetapi juga mendorong inovasi. Indonesia membuka peluang kerja sama di bidang digital health, kecerdasan buatan, precision medicine, genomik, interoperabilitas data kesehatan, riset teknologi kesehatan, hingga pengembangan talenta.
"Transformasi kesehatan tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan investor yang visioner, perusahaan yang inovatif, dan mitra yang tepercaya," ujarnya.
Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen mengatakan, transformasi kesehatan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, universitas, perusahaan, investor, hingga startup.
"Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), genomik, dan platform kesehatan digital berpotensi memperluas akses layanan kesehatan, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia," ungkapnya.
Sementara itu, Managing Partner & Head of Asia Novo Holdings Dr. Amit Kakar mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar kesehatan yang menarik di Asia karena didukung populasi besar. Selain itu adopsi teknologi digital yang tinggi, serta perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Kebutuhan pembangunan infrastruktur kesehatan dan layanan spesialis juga masih besar sehingga membuka peluang investasi jangka panjang di sektor kesehatan Indonesia," ungkapnya.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]