Katy Perry Murka Lagunya Dipakai Trump Iringi Video Serangan ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Penyanyi pop dunia Katy Perry mengecam Gedung Putih setelah lagunya, Firework, digunakan sebagai musik latar dalam video TikTok yang menampilkan serangan Amerika Serikat ke Iran.
Video berdurasi sembilan detik yang diunggah akun resmi Gedung Putih pada Kamis (24/7/2026) itu memperlihatkan rekaman ledakan yang diduga merupakan serangan terbaru AS terhadap Iran. Potongan lagu Firework diputar bertepatan dengan lirik "Boom, boom, boom", sementara di layar muncul tulisan "Iran telah diperingatkan."
Melalui akun X pada Sabtu (26/7/2026), Perry mengaku sangat kecewa dan marah melihat lagunya digunakan untuk mengiringi tayangan bernuansa perang. Ia langsung menandai Gedung Putih dalam unggahannya.
"Saya sangat terkejut dan marah melihat musik saya digunakan dengan cara seperti ini," tulis Perry dikutip dari CBC, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa Firework diciptakan sebagai lagu yang membawa harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang-orang yang sedang menghadapi masa tersulit dalam hidup.
"Melihat pesan tentang harga diri dan semangat itu dijadikan senjata untuk mengiringi kehancuran dan kekerasan merupakan pelanggaran total terhadap semua nilai yang diwakili lagu saya," lanjutnya.
Hingga kini Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas kritik tersebut. Namun, audio lagu Firework telah dihapus dari unggahan video aslinya di TikTok.
Meski mengecam penggunaan lagunya, secara hukum Perry memiliki ruang yang terbatas untuk menghentikan penggunaan tersebut. Pada 2023, ia menjual hak penerbitan lima albumnya kepada Litmus Music dengan nilai sekitar US$225 juta. Kesepakatan itu juga mencakup album Teenage Drea, yang berisi lagu Firework.
Sementara itu, hak master rekaman lagu tersebut masih dimiliki Universal Music Group, yang mengendalikan penggunaan, distribusi, dan monetisasi rekaman. Musik milik Universal juga tersedia di TikTok melalui perjanjian lisensi global yang berlaku sejak 2024.
Katy Perry bukan satu-satunya musisi yang memprotes penggunaan karya mereka oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Pada Juni lalu, Ariana Grande juga mengecam Gedung Putih setelah lagunya dipakai dalam video mengenai kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
"Tolong jangan pernah lagi menggunakan musik saya untuk hal yang barbar, tidak manusiawi, dan mengerikan seperti ini," tulis Ariana di TikTok.
Musisi rock Bruce Springsteen juga telah lama memprotes penggunaan lagu-lagunya oleh Trump, termasuk saat kampanye politik sejak 2016.
Di sisi lain, Perry memang dikenal sebagai pendukung Partai Demokrat. Selama beberapa pemilu presiden AS, ia secara terbuka memberikan dukungan kepada Hillary Clinton, Joe Biden, hingga Kamala Harris saat menghadapi Trump.
Nama Perry juga belakangan menjadi sorotan setelah menjalin hubungan dengan mantan perdana menteri Kanada Justin Trudeau sejak Juli tahun lalu. Keduanya bahkan sempat menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana Trudeau menyampaikan pidato mengenai pentingnya soft power.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]