WHO Beri Peringatan: Kasus Kanker Diproyeksi Nyaris 2x Lipat pada 2050

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
15 July 2026 11:00
Logo WHO (Dok. WHO)
Foto: Logo WHO (Dok. WHO)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dunia harus segera mengambil langkah nyata untuk mengendalikan kanker. Tanpa upaya yang lebih cepat dan merata, jumlah kasus baru kanker diproyeksikan melonjak hingga hampir dua kali lipat pada 2050.

Dalam WHO Global Status Report on Cancer 2026 yang disusun bersama International Agency for Research on Cancer (IARC), WHO memperkirakan kasus kanker baru secara global akan meningkat dari sekitar 20,6 juta kasus per tahun menjadi hampir 35 juta kasus pada 2050. Saat ini, kanker masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskular.

Setiap tahunnya tercatat sekitar 20,6 juta kasus baru dan hampir 10 juta kematian akibat penyakit tersebut. Artinya, lebih dari 26 ribu orang meninggal setiap hari karena kanker.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, kanker merupakan penyakit yang dapat menyerang hampir semua orang, baik secara langsung maupun melalui anggota keluarga.

"Kanker adalah penyakit yang sangat personal dan menyentuh hampir semua dari kita. Namun, apakah seseorang bisa bertahan hidup dari kanker seharusnya tidak bergantung pada tempat ia dilahirkan atau berapa besar penghasilannya," kata Tedros dikutip dari laman resmi WHO, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai, kesenjangan layanan kanker yang terjadi saat ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Ia bilang, kondisi tersebut merupakan akibat dari pilihan kebijakan yang dapat diperbaiki melalui aksi yang lebih kuat dan terpadu.

Ilustrasi kanker payudara. (Dok. Freepik)Ilustrasi kanker payudara. (Dok. Freepik) Foto: Ilustrasi kanker payudara. (Dok. Freepik)

Laporan WHO juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, hingga perawatan pendukung kanker di berbagai negara. Di negara berpendapatan tinggi, sekitar 87% perempuan penderita kanker payudara masih hidup hingga lima tahun setelah diagnosis.

Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, angkanya hanya sekitar 42%. Selain itu, kurang dari sepertiga negara di dunia yang telah memasukkan layanan kanker ke dalam paket cakupan kesehatan semesta (universal health coverage/UHC).

WHO juga menemukan, obat-obatan kanker esensial masih sulit diakses di banyak negara berkembang. Ketersediaan 20 obat kanker prioritas hanya berkisar 9-54% di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah, jauh di bawah negara berpendapatan tinggi yang mencapai 68-94%.

WHO untuk pertama kalinya juga melakukan survei terhadap penyintas dan keluarga pasien kanker. Hasilnya menunjukkan sedikitnya 45% pasien mengalami kesulitan finansial, lebih dari separuh menghadapi gangguan kesehatan mental, sementara hampir seluruh anggota keluarga yang merawat pasien mengaku mengalami tekanan, mulai dari beban merawat tanpa bayaran hingga isolasi sosial.

WHO menegaskan kanker bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berdampak besar terhadap kondisi ekonomi dan sosial sebuah keluarga.

Asia paling banyak kasus kanker

Laporan tersebut mencatat Asia menjadi wilayah dengan beban kanker terbesar di dunia pada 2024. Lebih dari 50,7% kasus kanker global dan 56,5% kematian akibat kanker terjadi di kawasan ini, sejalan dengan besarnya jumlah penduduk.

Sementara itu, Eropa menyumbang 21% kasus kanker dunia dan 20% kematian, meski hanya dihuni sekitar 9% populasi dunia. Di sisi lain, sejumlah negara di Afrika dan sebagian Asia mencatat angka kejadian kanker yang lebih rendah, tetapi memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi akibat keterbatasan layanan kesehatan.

Kanker paru masih paling mematikan

WHO menyebut kanker paru tetap menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Pada laki-laki, kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker paru, prostat, dan kolorektal. Sedangkan pada perempuan, beban terbesar berasal dari kanker payudara, paru, dan kolorektal.

Laporan itu juga mengungkap hampir empat dari 10 kasus kanker berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor tersebut meliputi infeksi seperti human papillomavirus (HPV), hepatitis B dan C, serta Helicobacter pylori, selain konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik.

Direktur IARC Elisabete Weiderpass mengatakan, profil kanker dunia kini mulai bergeser.

"Meski beberapa negara berhasil menurunkan angka kanker melalui kebijakan pencegahan, kemajuannya masih terlalu lambat. Kini kanker semakin dipicu oleh meningkatnya obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan polusi udara. Pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik," ujarnya.

WHO menilai berbagai kemajuan memang telah dicapai. Penggunaan tembakau secara global turun 27% sejak 2010, sementara 82% negara kini telah memiliki rencana nasional pengendalian kanker, meningkat dibandingkan 50% pada 2010.

Di negara berpendapatan tinggi, program deteksi dini berhasil menemukan sebagian besar kasus kanker payudara lebih cepat, sedangkan 74% perempuan telah menjalani skrining kanker serviks. Namun WHO menilai kemajuan tersebut belum cukup untuk menekan lonjakan kasus kanker di masa depan. Karena itu, WHO mendesak pemerintah, organisasi internasional, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat sipil bekerja sama membangun sistem pengendalian kanker yang lebih berpusat pada pasien.

Laporan tersebut juga merekomendasikan tiga langkah utama, yakni memperkuat kapasitas layanan kanker melalui cakupan kesehatan semesta, meningkatkan perlindungan sosial bagi pasien dan keluarga, serta memastikan hasil riset dan inovasi dapat diakses secara adil oleh seluruh masyarakat.

WHO menegaskan keputusan yang diambil saat ini akan menentukan besarnya beban kanker yang harus ditanggung generasi mendatang. Sehingga dengan investasi yang berkelanjutan dan pemerataan akses layanan, angka kematian akibat kanker dinilai masih dapat ditekan.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kabar Buruk dari WHO: 1 dari 5 Orang di Dunia Berisiko Kena Kanker


Most Popular
Features