20 Kota Dunia Berisiko Dilanda Panas Ekstrem, Surabaya & Bandung Masuk
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua kota di Indonesia, yakni Surabaya dan Bandung, masuk dalam daftar 20 kota dengan risiko panas ekstrem (heat risk) tertinggi di dunia. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru Oxford University yang menganalisis 205 kota berpenduduk lebih dari satu juta jiwa di seluruh dunia.
Penelitian tersebut tidak hanya mengukur suhu udara, tetapi juga menilai tiga faktor utama yang menentukan tingkat risiko panas ekstrem, yaitu tingkat paparan panas (hazard exposure), tingkat kerentanan penduduk (vulnerability), dan kemampuan suatu kota dalam menghadapi dampaknya (coping capacity).
Artinya, kota dengan suhu sangat tinggi belum tentu memiliki risiko terbesar jika memiliki infrastruktur yang baik, ruang hijau memadai, serta akses terhadap pendingin ruangan dan layanan publik yang kuat.
Sebaliknya, kota dengan kemampuan adaptasi yang rendah dapat menghadapi risiko lebih besar meski suhu udaranya tidak setinggi kota lain. Berdasarkan hasil penelitian, kota Al Basrah di Irak menempati posisi pertama sebagai kota paling berisiko terhadap panas ekstrem di dunia.
Kota tersebut memiliki kombinasi paparan panas yang tinggi, tingkat kerentanan masyarakat yang besar, serta kapasitas adaptasi yang terbatas.
Sementara itu, Surabaya berada di peringkat ke-18 dengan skor risiko komposit 0,72 dan Bandung di posisi ke-19 dengan skor 0,71.
Berikut daftar 20 kota dengan risiko panas ekstrem tertinggi di dunia versi University of Oxford:
- Al Basrah, Irak
- Ahmedabad, India
- Hyderabad, Pakistan
- Bamako, Mali
- Faisalabad, Pakistan
- Barranquilla, Kolombia
- Conakry, Guinea
- Nagpur, India
- Lagos, Nigeria
- Bhopal, India
- Port Harcourt, Nigeria
- Kaduna, Nigeria
- Madurai, India
- Ibadan, Nigeria
- Patna, India
- Phnom Penh, Kamboja
- Luanda, Angola
- Surabaya, Indonesia
- Bandung, Indonesia
- Abidjan, Pantai Gading
Peneliti utama dari Oxford Smith School of Enterprise and the Environment, Nethmi Jayaratne Kariyawasam mengatakan, risiko panas tidak hanya ditentukan oleh suhu yang tinggi.
"Bukan hanya paparan terhadap suhu tinggi yang menentukan tingkat risiko," ujarnya.
Senada, Associate Professor University of Oxford, Jesus Lizana, menyebut penelitian ini menjadi alat penting untuk mengidentifikasi wilayah yang paling membutuhkan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Penelitian juga menemukan lebih dari 95% kota dengan risiko panas tertinggi berada di kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara. India, Pakistan, Nigeria, dan Ghana menjadi negara dengan jumlah kota berisiko tinggi terbanyak.
Para peneliti merekomendasikan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko panas ekstrem di perkotaan, seperti memperluas ruang hijau dan area teduh, meningkatkan akses terhadap sistem pendingin yang terjangkau, memperkuat ketahanan energi, serta memberikan perlindungan lebih baik bagi kelompok masyarakat yang rentan.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]