Indonesia Nomor 3 Dunia Kasus Kusta, Penyintas Hadapi Stigma
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi ketiga di dunia. Di balik ribuan kasus baru yang ditemukan setiap tahun, penyintas kusta masih harus menghadapi tantangan lain yang tak kalah berat, yakni stigma dan diskriminasi dari masyarakat.
Penyintas kusta, Syamsul Iman mengaku pernah mengalami perundungan dan dijauhi lingkungan setelah didiagnosis mengidap penyakit tersebut. Padahal, menurutnya, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini dan diobati secara tuntas.
"Dulu saya sampai dibawa ke dukun, kata tetangga ini penyakit kutukan, padahal setelah dicek saya terkena kusta dan bisa sembuh," kata Syamsul.
Syamsul hanya salah satu dari banyak penyintas kusta yang menjadi pengingat bahwa tantangan penanganan kusta bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga menghapus stigma yang membuat banyak penderita enggan memeriksakan diri hingga akhirnya datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah mengalami kecacatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia masih menjadi negara dengan kasus kusta nomor tiga dunia dan menemukan sekitar 14.000-16.000 kasus baru kusta setiap tahun. Namun, angka tersebut diperkirakan belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi.
Pemerintah menargetkan penemuan kasus lebih banyak, yakni sekitar 37.000 hingga 40.000 kasus per tahun. Budi bilang, semakin banyak pasien ditemukan, semakin cepat mereka mendapatkan pengobatan sehingga penularan dapat dihentikan.
"Yang ditemukan setiap tahun 14.000. Kita mau naikkan kalau bisa sampai 37.000 sampai 40.000," kata Budi dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan pasien kusta yang mulai menjalani pengobatan tidak lagi menularkan penyakitnya. Anggota keluarga yang tinggal serumah juga akan diberikan terapi pencegahan sehingga risiko penularan dapat ditekan.
Untuk mempercepat penemuan kasus, Kementerian Kesehatan akan mengintegrasikan skrining kusta ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Masyarakat yang ditemukan memiliki bercak putih disertai mati rasa akan langsung diperiksa lebih lanjut dan diberikan pengobatan apabila terkonfirmasi mengidap kusta.
"Ini penyakit yang bisa diobati dan enggak usah diberikan stigma seperti kutukan atau bisa menular ke mana-mana. Karena sekali kita minum obat, penyakit ini tidak menular lagi," katanya.
Pemerintah juga menggandeng pemerintah daerah melalui penandatanganan komitmen 38 gubernur untuk mempercepat eliminasi kusta. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan, penanganan kusta tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan sektor pendidikan, sosial, keagamaan, komunikasi, hingga ketenagakerjaan agar stigma terhadap penyintas dapat dihilangkan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memastikan program penanganan kusta akan menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan daerah. Pemerintah daerah didorong memasukkan program eliminasi kusta ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran, bahkan keberhasilannya akan dipertimbangkan sebagai salah satu indikator pemberian insentif bagi daerah.
Duta Besar Kehendak Baik Organisasi Kesehatan Dunia untuk Eliminasi Kusta, Yohei Sasakawa, menilai pendekatan Indonesia yang aktif mencari sebanyak mungkin pasien merupakan strategi inovatif. Menurut Sasakawa, kebijakan tersebut dapat menjadi contoh bagi negara lain karena selama ini banyak pasien baru berobat setelah penyakitnya terlambat ditangani.
"Kebijakan inovatif ini saya rasa dapat dijadikan model untuk negara-negara lain. Indonesia merupakan negara pertama yang menerapkan strategi tersebut," ujar Sasakawa.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]