Banyak Remaja-Gen Z Kena Diabetes, Penyebabnya Tak Cuma Makanan Manis

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
04 July 2026 19:10
Diabetes (Ist Pixabay)
Foto: Diabetes (Ist Pixabay)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan diabetes. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF), jumlah penyandang diabetes di Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 20,4 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun.

Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia, sekaligus menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Tak hanya jumlah kasus yang tinggi, tren diabetes juga mengalami pergeseran. Penyakit yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 40 tahun kini semakin sering didiagnosis pada usia produktif, bahkan remaja.

Associate Professor Dr. Do Dinh Tung, Direktur Duc Giang General Hospital di Hanoi, Vietnam, mengatakan diabetes kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.

"Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja," ujarnya, dikutip dari Beautynesia, Sabtu (4/7/2026).

Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap tren tersebut adalah perubahan pola makan dan gaya hidup generasi muda.

Konsumsi Fast Food Masih Tinggi

Makanan cepat saji seperti mi instan, burger, kentang goreng, hingga ayam goreng masih menjadi menu favorit banyak anak muda.

Jenis makanan tersebut umumnya mengandung kalori, lemak, gula, dan karbohidrat olahan dalam jumlah tinggi. Kombinasi tersebut berpotensi memicu lonjakan kadar gula darah apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Dalam satu porsi burger, misalnya, kandungan gula tidak hanya berasal dari saus, tetapi juga dari roti, lapisan tepung pada daging, serta pelengkap lainnya. Karena itu, membatasi konsumsi makanan cepat saji dinilai dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme.

Gemar Minuman Manis

Selain makanan cepat saji, konsumsi minuman manis juga menjadi perhatian.

Berdasarkan survei Jakpat pada April 2026, sebanyak 67% responden Gen Z mengaku mengonsumsi kopi dalam enam bulan terakhir, disusul teh (65%), jus (47%), dan minuman bersoda (30%).

Associate Professor bidang endokrinologi, diabetes, dan metabolisme di Rush University Medical Center, Chicago, Rasa Kazlauskaite mengatakan minuman manis dapat menyulitkan pengendalian kadar gula darah.

Menurutnya, soda, teh manis, hingga jus buah umumnya mengandung gula tinggi, tetapi minim protein, lemak, maupun serat sehingga tidak memberikan rasa kenyang yang cukup lama.

Sebagai alternatif, ia menyarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih. Jika merasa bosan, air putih dapat diberi tambahan potongan buah segar sebagai penambah rasa alami.

Bukan Hanya Karena Terlalu Banyak Gula

Meski konsumsi gula sering dikaitkan dengan diabetes, para ahli menilai penyakit ini tidak disebabkan oleh satu faktor saja.

Diabetes merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari riwayat genetik, pola makan yang kurang sehat, minim aktivitas fisik, kualitas tidur yang buruk, hingga stres berkepanjangan.

Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko, terutama apabila dibarengi dengan gaya hidup yang tidak sehat. Kondisi tersebut dapat memicu resistensi insulin yang pada akhirnya berkembang menjadi diabetes.

Makanan Tidak Manis Pun Bisa Memicu Gula Darah Naik

Banyak orang mengira lonjakan gula darah hanya disebabkan oleh makanan yang rasanya manis. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ahli kardiologi preventif Stephen Devries mengatakan makanan berpati yang tidak terasa manis justru dapat meningkatkan kadar glukosa darah secara signifikan.

"Banyak orang tidak menyadari bahwa makanan berpati, yang sering kali sama sekali tidak terasa manis justru dapat meningkatkan kadar glukosa darah secara lebih signifikan dibanding makanan manis," ujarnya, dikutip dari American Medical Association.

Kelompok makanan berpati meliputi kentang, ubi jalar, jagung, dan kacang polong. Namun, bukan berarti makanan tersebut harus dihindari sepenuhnya.

Konsumsi makanan berpati tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dipadukan dengan sumber protein tanpa lemak, serat, dan lemak sehat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Melihat tren meningkatnya kasus diabetes pada usia muda, menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, tidur yang cukup, serta mengelola stres menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit tersebut sejak dini.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Usia 30-an Banyak Kena Fatty Liver, Waspada Silent Killer


Most Popular
Features