Banyak Sarjana Menganggur, China Tutup 12.200 Jurusan Kuliah

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
03 July 2026 08:40
Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China merombak besar-besaran sistem pendidikan tinggi di tengah tingginya angka pengangguran lulusan muda. Dalam lima tahun terakhir, universitas di Negeri Tirai Bambu menghapus atau menghentikan penerimaan mahasiswa pada 12.200 program sarjana dan membuka sekitar 10.200 program studi baru yang lebih berorientasi pada kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.

Melansir Times of India, Kamis (2/7/2026), kebijakan tersebut berlangsung sepanjang 2021-2025 berdasarkan data Kementerian Pendidikan China yang dikutip kantor berita Xinhua. Perubahan itu mencakup lebih dari 30% seluruh program studi di universitas di seluruh negeri.

Pemerintah China menilai jurusan yang tidak lagi menghasilkan peluang kerja perlu dievaluasi, sehingga pemangkasan paling banyak terjadi pada program studi seni, humaniora, bahasa asing, hingga manajemen. Sebaliknya, jurusan baru didominasi bidang AI, robotika, dan teknologi masa depan.

Perombakan ini dilakukan di tengah tekanan besar di pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran kaum muda di China masih berada di atas 16%, sementara sekitar 12,7 juta mahasiswa dijadwalkan lulus pada musim panas tahun ini atau naik sekitar 4% dibandingkan tahun lalu.

Melalui perubahan kurikulum tersebut, Beijing berharap lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri masa depan sehingga dapat membantu mengurangi krisis lapangan kerja yang berlangsung sejak pandemi Covid-19.



Jurusan Seni hingga Bahasa Mulai Ditinggalkan

Program studi seni dan humaniora menjadi yang paling terdampak karena dinilai menghasilkan terlalu banyak lulusan dibandingkan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, perkembangan AI juga mulai menggantikan sebagian pekerjaan di sektor kreatif.

Salah satu contohnya terjadi di Universitas Shanghai untuk Sains dan Teknologi yang menghentikan penerimaan mahasiswa baru untuk program desain produk pada tahun ini. Seorang alumnus mengatakan, prospek kerja di bidang tersebut semakin suram karena pekerjaan seperti membuat model dan rendering kini dapat dikerjakan menggunakan teknologi AI.

Perubahan juga terjadi di kampus ternama seperti Communication University of China di Beijing. Universitas tersebut menggabungkan program sinematografi ke dalam program produksi film dan televisi yang lebih luas. Menurut para alumninya, perubahan itu merupakan penyesuaian terhadap perkembangan industri konten digital seperti live streaming dan video pendek.

Sebaliknya, banyak universitas justru membuka jurusan yang berkaitan langsung dengan agenda pembangunan ekonomi China. Sedikitnya sembilan universitas membuka program studi embodied intelligence, yaitu teknologi yang menggabungkan AI dengan robot atau perangkat fisik agar mampu berinteraksi secara langsung dengan lingkungan.

Permintaan tenaga kerja di sektor AI juga terus meningkat. Platform rekrutmen Zhilian Zhaopin mencatat lowongan untuk posisi AI Product Manager melonjak 81% dibandingkan tahun lalu. Sementara platform Maimai mencatat kenaikan hingga 369% untuk posisi serupa.

Selain merombak jurusan kuliah, pemerintah China juga menargetkan melatih satu juta anak muda tahun ini dalam bidang AI, manufaktur canggih, ekonomi ketinggian rendah (low-altitude economy), serta kendaraan energi baru.

Belum Tentu Jadi Solusi

Meski demikian, sejumlah pakar menilai perubahan jurusan saja belum tentu mampu menyelesaikan persoalan pengangguran. Peneliti senior National Institute of Education Sciences, Chu Zhaohui mengatakan, banyak program studi yang kini dihapus sebenarnya baru dibuka beberapa tahun lalu sehingga belum sempat berkembang.

Ia menilai universitas seharusnya memberikan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa untuk memilih mata kuliah sesuai minat dan membangun kompetensinya sendiri, dibanding terus-menerus mengganti jurusan mengikuti tren pasar kerja.

Pandangan serupa mulai dianut sebagian orang tua di China. Salah satunya Vincent Zhao, pemilik perusahaan produksi media di Beijing, yang memilih mengarahkan putrinya mengambil jurusan statistik dan tata kelola data karena dianggap memiliki prospek lebih luas dibandingkan spesialisasi yang terlalu sempit.

Bagi banyak keluarga di China, konsep lama bahwa satu jurusan akan mengantarkan seseorang pada satu pekerjaan tetap hingga pensiun kini dinilai sudah tidak lagi relevan.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Lulusan Jurusan Ini Terancam AI, Nomor 2 Banyak Diburu Anak Muda


Most Popular
Features