Ramai Fenomena Revenge Bedtime Proscrastination, Ini Penjelasan Pakar

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
25 June 2026 10:17
Foto: Ilustrasi menguap. (Dokumentasi Freepik)
Foto: Ilustrasi menguap. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena revenge bedtime procrastination atau yang dikenal sebagai begadang balas dendam semakin banyak dialami masyarakat modern. Istilah ini merujuk pada kebiasaan sengaja menunda waktu tidur demi mendapatkan waktu untuk diri sendiri setelah seharian sibuk bekerja, belajar, atau mengurus berbagai tanggung jawab.

Para pakar tidur menjelaskan bahwa begadang balas dendam terjadi ketika seseorang sadar bahwa dirinya harus tidur, namun tetap memilih terjaga tanpa alasan mendesak. Berikut sekilas tentang revenge bedtime procrastination yang semakin sering dibahas di media sosial:



1. Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda tidur secara sengaja
Melansir dari Sleep Foundation, revenge bedtime procrastination merupakan kebiasaan menunda tidur untuk melakukan aktivitas pribadi meski sadar bahwa hal tersebut dapat mengurangi waktu istirahat. Biasanya, seseorang tetap terjaga untuk scrolling media sosial, menonton film, bermain game, atau sekadar menikmati waktu sendirian di malam hari.

2. Fenomena ini muncul karena seseorang merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri
Istilah "revenge" dalam revenge bedtime procrastination muncul karena seseorang merasa ingin "mengambil kembali" waktu pribadi yang hilang akibat pekerjaan, tugas, atau aktivitas sepanjang hari.

Dilansir dari Verywell Mind, fenomena ini banyak dialami oleh orang-orang dengan jadwal padat yang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menikmati hal-hal yang mereka sukai di siang hari.

3. Media sosial membuat revenge bedtime procrastination semakin sering terjadi
Salah satu hal yang membuat revenge bedtime procrastination semakin umum terjadi adalah penggunaan media sosial di malam hari. Banyak orang akhirnya terus scrolling TikTok, Instagram, atau menonton video hingga larut malam tanpa sadar waktu terus berjalan. Padahal, penggunaan gadget sebelum tidur juga dapat membuat otak lebih sulit rileks dan akhirnya menunda waktu tidur lebih lama.

4. Revenge bedtime procrastination bisa berdampak pada kesehatan fisik dan mental
Meski terasa menyenangkan sesaat, kebiasaan tidur terlalu larut tetap dapat berdampak pada kesehatan tubuh dan mental. Kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lebih lelah, sulit fokus, mudah emosional, hingga memengaruhi mood sehari-hari.

Melansir dari Sleep Foundation, kurang tidur dalam jangka panjang juga dapat berdampak pada kesehatan fisik serta kualitas hidup secara keseluruhan. Kurang tidur kronis juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme seperti diabetes, serta penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Beberapa ahli neurologi bahkan memperingatkan bahwa kebiasaan begadang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah otak dan stroke ringan.

5. Banyak orang merasa revenge bedtime procrastination adalah bentuk self-reward
Bagi sebagian orang, waktu malam terasa menjadi satu-satunya waktu yang benar-benar bisa dinikmati tanpa tuntutan pekerjaan atau aktivitas lain. Oleh karena itu, tidak sedikit yang menganggap begadang sebagai bentuk self-reward setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut justru bisa membuat tubuh semakin kelelahan dan sulit mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Meski terasa seperti cara untuk menikmati waktu pribadi setelah hari yang melelahkan, kebiasaan menunda tidur tetap bisa berdampak pada kesehatan jika dilakukan terus-menerus. Jadi, penting untuk tetap mencari keseimbangan antara waktu istirahat.

Artikel selengkapnya >>> Klik di sini

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jangan Sepelekan Begadang Saat Nonton Piala Dunia 2026, Ini Risikonya


Most Popular
Features