Ratu Super Hemat Kasih Tips-Prinsip Frugal Living, Kantong Aman
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekerja di ibu kota sering kesulitan mengatur keuangan karena kenaikan harga bahan pokok serta gaya hidup, seperti kebiasaan makan di luar, yang membuat gaji cepat habis. Sebagai solusinya, gaya hidup frugal living bisa diterapkan untuk mengelola keuangan secara bijaksana dan menghindari pemborosan.
Meski sering dianggap ekstrem atau pelit, prinsip itu sebenarnya bukan menyiksa diri, melainkan menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan. Salah satu sosok yang sukses menerapkannya adalah Linda Homiya, yang dikenal sebagai "Queen of Frugal Living" atau "Ratu Super Hemat".
Linda membuktikan bahwa hidup hemat tetap bisa dijalankan tanpa harus merasa tertekan. Ia membagikan tips dan cara menerapkan gaya hidup tersebut melalui wawancara di kanal YouTube Rivan Kurniawan. Berikut ulasannya dilansir dari Beautynesia, Sabtu (20/6/2026):
Frugal Living, bukan No Living
Prinsip utama frugal living menurut Linda bukanlah menyiksa diri atau membatasi segala keinginan hingga hidup merana, melainkan menerapkan penganggaran yang ketat. Dengan "frugal living, bukan no living," dia menekankan pentingnya menemukan batas kenyamanan finansial masing-masing agar tetap bisa menikmati hidup tanpa harus memaksakan gaya hidup mewah demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Tingkatkan diri, bukan hanya menahan lapar
Gaya hidup frugal living sangat membantu pekerja dengan gaji terbatas dalam mengelola pengeluaran, namun menahan pengeluaran saja tidak cukup karena jumlah tabungan akan tetap terbatas jika pendapatan tidak meningkat.
Oleh karena itu, penting untuk fokus meningkatkan keterampilan dan mencari peluang baru guna menaikkan penghasilan selagi masih muda. Dengan meningkatkan kapasitas diri dan pendapatan, seseorang dapat menabung serta berinvestasi dalam jumlah yang lebih besar tanpa harus menyiksa diri dengan penghematan yang ekstrem.
Jangan FOMO
Tantangan bagi pekerja sering muncul saat karier dan penghasilan mulai meningkat. Kondisi ini biasanya memicu dorongan untuk mengikuti gaya hidup mewah atau tren terbaru, seperti mencicil kendaraan dan barang elektronik mahal hanya demi gengsi atau Fear Of Missing Out (FOMO).
Linda menyarankan agar kita berani mengabaikan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Saat penghasilan bertambah, sebaiknya gaya hidup tetap dijaga pada level yang stabil. Lebih baik memiliki keuangan yang sehat secara diam-diam daripada terlihat kaya di media sosial namun sebenarnya kesulitan membayar cicilan, karena pujian orang lain tidak akan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup Anda.
Buat "Pohon Aset"
Gaya hidup frugal living sebenarnya merupakan komitmen dan pengorbanan sementara untuk masa depan. Linda menerapkan prinsip itu dengan mengalokasikan sisa penghasilannya ke instrumen investasi seperti saham, obligasi, dan reksa dana, daripada hanya menyimpannya di rekening bank biasa. Ia mengibaratkan langkah itu sebagai menanam "pohon aset" yang dipupuk saat ini agar hasilnya dapat dinikmati atau dipanen di masa mendatang.
Nah, disiplin dalam menyisihkan modal investasi selagi muda bertujuan untuk membangun aset yang nantinya dapat menghasilkan pendapatan pasif guna membiayai kebutuhan hidup.
Dengan fokus pada pembentukan aset tersebut, seseorang dapat mencapai kemerdekaan finansial dan menikmati masa pensiun dengan tenang tanpa harus bergantung pada pekerjaan kantor. Prinsip frugal living menawarkan perspektif baru mengenai pentingnya pengelolaan keuangan yang bijaksana untuk menjamin kesejahteraan di masa mendatang.
source on Google [Gambas:Video CNBC]