Bahaya Kecanduan TikTok-IG Reels Terungkap, Otak Pengguna Bisa Berubah

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
20 June 2026 11:45
Ilustarsi melihat Tiktok. (Freepik)
Foto: Ilustarsi melihat Tiktok. (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru menemukan gejala kecanduan video pendek berkaitan dengan perbedaan struktur dan aktivitas sejumlah area otak yang berperan dalam kontrol diri, emosi, perhatian, dan sistem penghargaan. Temuan ini muncul di tengah semakin populernya platform video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal NeuroImage pada 2025 itu melibatkan 111 mahasiswa di China. Para peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk memetakan struktur dan aktivitas otak, sekaligus mengukur tingkat kecanduan video pendek para peserta.

"Kecanduan video pendek telah muncul sebagai masalah perilaku dan sosial yang semakin berkembang, didorong oleh meluasnya penggunaan platform digital yang menyediakan konten video singkat, personal, dan sangat menarik," tulis tim peneliti dalam riset berjudul "Neuroanatomical and Functional Substrates of the Short Video Addiction and Its Association with Brain Transcriptomic and Cellular Architecture" (2025)

Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi gejala kecanduan video pendek seseorang, semakin besar pula perbedaan yang ditemukan pada sejumlah area otaknya. Secara struktural, peneliti menemukan peningkatan volume pada orbitofrontal cortex (OFC) dan cerebellum atau otak kecil di kedua sisi otak.

"Secara struktural, kami menemukan hubungan positif antara gejala kecanduan video pendek dengan peningkatan volume pada orbitofrontal cortex dan cerebellum bilateral," tulis peneliti.

OFC merupakan area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian impuls, pemrosesan penghargaan (reward), dan pengaturan emosi. Menurut peneliti, perubahan pada area ini dapat menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap rangsangan dan penghargaan yang diberikan oleh konten video pendek. Kondisi ini dapat membuat seseorang terdorong untuk terus menonton dan mencari konten berikutnya.

Selain perubahan struktur, tim peneliti juga menemukan peningkatan aktivitas spontan pada dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), posterior cingulate cortex (PCC), cerebellum, dan temporal pole (TP).

"Area DLPFC, PCC, cerebellum, dan temporal pole menunjukkan aktivitas spontan yang lebih tinggi, yang berkorelasi positif dengan tingkat keparahan kecanduan video pendek," tulis peneliti.

DLPFC merupakan bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri dan perhatian, sementara PCC berkaitan dengan memori dan refleksi diri. Adapun temporal pole berhubungan dengan pemrosesan emosi serta interaksi sosial.

Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antara kecanduan video pendek dan sifat iri hati (dispositional envy). Individu yang lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain diketahui memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami gejala kecanduan video pendek.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak membuktikan TikTok atau platform video pendek secara langsung menyebabkan perubahan pada otak. Penelitian hanya menemukan hubungan antara gejala kecanduan video pendek dan karakteristik otak yang diamati pada responden.

Atas dasar itu, temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti awal mengenai hubungan antara kecanduan video pendek dan perbedaan struktur serta aktivitas sejumlah area otak yang berperan dalam kontrol diri, emosi, perhatian, dan sistem penghargaan.

(mfa/dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Catat! Ini Cara Mengenali Psikopat dari Tatapan Matanya Menurut Studi


Most Popular
Features