Jangan Sepelekan Begadang Saat Nonton Piala Dunia 2026, Ini Risikonya

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
12 June 2026 15:30
Jangan Sepelekan Begadang Saat Nonton Piala Dunia 2026, Ini Risikonya
Foto: Cover Topik/ Piala Dunia 2026/ Edward Ricardo
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Piala Dunia 2026 akan membuat banyak penggemar sepak bola di Indonesia kembali begadang. Perbedaan waktu dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membuat sebagian besar pertandingan berlangsung pada malam hingga dini hari WIB.

Sesekali begadang untuk menonton pertandingan mungkin tidak menjadi masalah. Namun, jika dilakukan berulang selama turnamen berlangsung, kebiasaan ini dapat mengganggu pola tidur dan berdampak pada kesehatan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa begadang yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme, obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga masalah kesehatan mental. Lalu, apa saja dampak begadang bagi tubuh dan bagaimana cara mengurangi risikonya? Berikut ulasannya.

Mengapa Ada Orang yang Lebih Kuat Begadang?

Setiap manusia punya jam tubuh yang berbeda, yang mengatur kapan kita mengantuk dan kapan paling berenergi. Ada tiga tipe utama:

  • Tipe Malam: Tidur larut, paling produktif dan segar di malam hari, sulit bangun pagi. Ini tipe yang paling siap tempur buat nonton semua pertandingan Piala Dunia sampai pagi.

  • Tipe Pagi: Bangun pagi dengan segar, cepat mengantuk di malam hari. Buat tipe ini, nonton pembukaan atau laga puncak saja rasanya sudah cukup menguras tenaga.

  • Tipe Menengah: Bisa beradaptasi di keduanya.

Masalah muncul ketika jadwal tidur alami ini bertabrakan dengan jadwal hidup sehari-hari atau dalam kasus ini, jadwal siaran pertandingan. Ketidaksesuaian ritme tubuh inilah yang perlahan memicu berbagai gangguan kesehatan jika dibiarkan terlalu lama.

Risiko Kesehatan Sering Begadang

Selama sebulan penuh Piala Dunia, pola tidur pasti akan berubah drastis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan begadang atau memiliki tipe tidur malam punya risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur dan bangun pagi. Ini daftarnya:

1. Risiko Diabetes dan Tekanan Darah Naik

Begadang dan pola tidur yang berantakan mengganggu keseimbangan hormon dan memicu peradangan dalam tubuh. Akibatnya, kemampuan tubuh mengatur kadar gula darah jadi kacau, dan risiko diabetes meningkat cukup besar.

Belum lagi kebiasaan teman nonton: camilan asin, gorengan, atau minuman manis dan berkarbonasi yang biasa ada saat nobar. Gabungan antara kurang tidur dan makanan itu adalah "bom waktu" bagi tekanan darah.

Tekanan darah mudah melonjak kalau jam tidur berubah-ubah setiap hari atau kita sering menunda istirahat.

2. Lebih Gampang Emosi dan Bad Mood

Pernah merasa mudah marah atau kecewa berlebihan saat tim kesayangan kalah? Bukan cuma karena cintamu besar pada tim itu, tapi bisa jadi karena kamu kurang tidur.

Penelitian membuktikan, orang yang begadang cenderung lebih sulit mengendalikan emosi. Kita jadi lebih gampang kesal, sering memendam perasaan, dan susah melihat sisi positif. Kemampuan berpikir jernih berkurang drastis saat ritme tidur berantakan.

3. Berat Badan Naik Tanpa Sadar

Ini musuh utama saat Piala Dunia. Begadang mengubah hormon rasa lapar dan kenyang. Hormon kenyang (leptin) turun, sementara hormon lapar (ghrelin) naik tajam.

Ditambah lagi saat menonton, kita cenderung makan tanpa sadar jumlahnya. Kalau tidak hati-hati, sebulan setelah Piala Dunia selesai, berat badanmu bisa naik lumayan banyak.

4. Utang Tidur yang Sulit Dibayar

Strategi banyak orang: "Nanti tidur panjang deh paginya atau pas akhir pekan". Sayangnya, menurut para ahli, itu tidak sepenuhnya berhasil. Istilahnya adalah utang tidur. Tidur berjam-jam di siang hari tidak bisa mengganti kualitas istirahat malam yang hilang. Akibatnya, tubuh tetap terasa lemas, pusing, dan tidak fokus saat harus beraktivitas kembali.

5. Risiko Jangka Panjang: Umur Lebih Pendek

Sebuah studi besar yang dirilis tahun 2018 menyebutkan fakta yang cukup mengagetkan: orang yang memang tipe "burung malam" dan sulit bangun pagi punya risiko kematian dini 10% lebih tinggi dibandingkan mereka yang terbiasa tidur dan bangun pagi. Ini pengingat bahwa begadang boleh saja sesekali, tapi kalau jadi gaya hidup rutin, dampaknya serius bagi kesehatan jangka panjang.

6. Remaja Lebih Berisiko

Bagi remaja, begadang saat Piala Dunia itu hal biasa. Padahal, di usia ini tubuh butuh sekitar 9 jam tidur. Kurang tidur dikaitkan dengan peningkatan perilaku berisiko, susah konsentrasi belajar, hingga kebiasaan merokok atau minum alkohol, terutama pada remaja laki-laki.

Sisi Positif Begadang

Menjadi orang yang nyaman begadang atau menikmati momen malam hari itu ada kelebihannya juga. Penelitian menunjukkan, tipe "burung malam" biasanya punya jaringan pertemanan yang lebih luas dan hubungan sosial yang lebih baik ini sangat terasa banget saat momen Piala Dunia seperti sekarang, di mana kita berkumpul dengan banyak orang untuk mendukung tim bersama-sama.

Cara Aman Nikmati Piala Dunia 2026 Tanpa Merusak Kesehatan

Meski genetika menentukan 50% kebiasaan tidur, separuh sisanya masih bisa kita atur. Menurut Kristen Knutson, PhD, pakar saraf dan pencegahan penyakit dari Universitas Northwestern, kuncinya ada pada konsistensi dan penyesuaian bertahap.

Nah, buat kamu yang mau aman nonton sampai final, berikut tips sederhana:

  1. Atur Jam Tidur Secara Bertahap: Mulai beberapa hari sebelum pertandingan, biasakan tidur lebih lambat 15-30 menit setiap malam agar tubuh beradaptasi perlahan. Jangan tiba-tiba begadang sampai pagi di hari pertama, nanti tubuh kaget.

  2. Cari Cahaya Matahari Pagi: Ini cara paling ampuh mereset jam tubuh. Meski baru tidur jam 4 pagi, usahakan tetap bangun di jam yang sama seperti biasa, lalu cari cahaya matahari pagi walau cuma sebentar. Ini membantu tubuh tetap mengenali ritme siang dan malam.

  3. Kurangi Cahaya Terang Saat Nonton: Cahaya layar HP atau lampu ruangan yang terlalu terang saat malam hari bikin otak mengira itu siang, sehingga kamu makin susah tidur setelah pertandingan selesai. Redupkan lampu agar setelah pertandingan, tubuh bisa cepat rileks dan mengantuk kembali.

  4. Jaga Isi Piring: Ganti camilan gorengan atau manis dengan yang lebih sehat seperti buah, kacang-kacangan, atau air putih yang cukup. Hindari kafein berlebihan di jam-jam akhir malam agar tidak mengganggu waktu istirahat singkatmu.

  5. Bantuan Melatonin (Jika Perlu): Kalau ritme tubuh sudah sangat kacau, konsultasikan dengan dokter mengenai suplemen melatonin untuk membantu mengatur ulang jam tidur, tapi jangan jadikan kebiasaan jangka panjang.

(dag/dag) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Tuan Rumah, Kenapa Portugal Bisa Raup Rp19 T dari Piala Dunia?


Most Popular
Features