Lulusan Jurusan Ini Terancam AI, Nomor 2 Banyak Diburu Anak Muda

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
11 June 2026 10:35
Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - World Economic Forum (WEF) memperkirakan sekitar 92 juta pekerjaan akan hilang akibat perkembangan teknologi hingga beberapa tahun ke depan. Di saat yang sama, sebanyak 78 juta pekerjaan baru diprediksi muncul seiring berkembangnya ekonomi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Perubahan tersebut ternyata turut mempengaruhi dunia pendidikan. Laporan Forbes menyebut ada sejumlah jurusan kuliah yang lulusannya berisiko paling besar terdampak AI karena sebagian tugasnya kini mulai dapat dikerjakan oleh teknologi otomatis. Kampus pun didorong menyesuaikan kurikulum agar mahasiswa memiliki keterampilan yang tetap relevan di pasar kerja.

1. Akuntansi

Forbes menyebut jurusan akuntansi dan pembukuan tradisional menjadi salah satu yang paling rentan terdampak AI. Banyak pekerjaan administratif dan perhitungan dasar kini dapat dilakukan oleh perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan.

Mahasiswa di bidang keuangan disarankan memperluas kompetensinya, semisal dengan mempelajari AI untuk sektor keuangan atau memperdalam kemampuan analisis dan strategi investasi yang masih membutuhkan pertimbangan manusia.

2. Komunikasi, Periklanan, dan Marketing

Bidang komunikasi, periklanan, dan pemasaran juga menghadapi perubahan besar akibat perkembangan AI. Teknologi ini kini mampu membantu pembuatan konten, perencanaan kampanye pemasaran, hingga penyusunan siaran pers dan unggahan media sosial.

Forbes menilai, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan AI secara kreatif dan etis. Penguasaan berbagai perangkat seperti HubSpot AI, SEMrush, atau Jasper AI dapat menjadi nilai tambah di dunia kerja. Namun, sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menjaga identitas dan karakter sebuah merek.

3. Desain Grafis

Jurusan desain grafis juga masuk dalam daftar bidang yang berpotensi terdampak AI. Saat ini berbagai platform desain memungkinkan pengguna membuat logo, ilustrasi, maupun materi promosi secara instan tanpa harus memiliki kemampuan desain mendalam.

Agar tetap relevan, pendidikan desain dinilai perlu lebih menekankan aspek strategi komunikasi visual, psikologi konsumen, dan kemampuan berpikir kreatif dibanding hanya keterampilan teknis mengoperasikan perangkat lunak desain.

Pendidikan Harus Beradaptasi

Presiden dan CEO DeVry University, Elise Awwad, mengatakan perguruan tinggi kini memegang peran penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi era AI.

"Jika kampus tidak memprioritaskan pendidikan AI dan keadilan dalam penerapannya, mereka bukan hanya gagal mendidik mahasiswa, tetapi juga gagal mempersiapkan tenaga kerja masa depan," ujarnya, dikutip dari Forbes, Kamis (11/6/2026).

Awwad mengatakan DeVry University telah mengintegrasikan pembelajaran AI ke berbagai program studi. Langkah tersebut membuat tingkat penyelesaian kursus AI meningkat 29% dalam setahun terakhir.

"Kami ingin para lulusan siap berinteraksi dengan teknologi ini sejak hari pertama mereka bekerja," katanya.

Ia menambahkan, adaptasi terhadap perkembangan AI tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan. Dunia usaha juga perlu memberikan pelatihan kepada karyawan agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.

Selain itu, pekerja didorong memanfaatkan berbagai platform pembelajaran daring seperti Coursera, LinkedIn Learning, dan Udacity untuk meningkatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa depan.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kondisi Makin Sulit, 10 Jurusan Kuliah Ini Paling Mudah Dapat Kerja


Most Popular
Features