Studi: Makin Banyak Gigi Hilang, Risiko Meninggal Lebih Cepat Naik!
Jakarta, CNBC Indonesia - Jangan anggap sepele kondisi gigi yang rusak atau tanggal. Sebuah penelitian terbaru menemukan jumlah gigi yang masih dimiliki seseorang dapat menjadi petunjuk penting terhadap kondisi kesehatan secara keseluruhan, bahkan berkaitan dengan risiko kematian dini.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Jepang terhadap lebih dari 190 ribu lansia berusia 75 tahun ke atas. Peneliti menemukan orang yang memiliki lebih banyak gigi sehat cenderung memiliki peluang hidup lebih panjang dibanding mereka yang kehilangan banyak gigi atau memiliki gigi berlubang yang tidak ditangani.
Gigi yang telah diperbaiki melalui tambalan ternyata memberikan manfaat yang hampir setara dengan gigi sehat. Artinya, perawatan gigi yang tepat tidak hanya membantu mempertahankan fungsi mulut, tetapi juga berpotensi mendukung kesehatan jangka panjang.
Hasil penelitian menunjukkan, jumlah gigi sehat dan gigi yang telah ditambal merupakan indikator yang lebih akurat dalam memprediksi risiko kematian akibat berbagai penyebab dibanding hanya menghitung jumlah gigi sehat saja.
"Jumlah total gigi sehat dan gigi yang ditambal memprediksi angka kematian akibat semua penyebab dengan lebih akurat daripada hanya jumlah gigi sehat saja," tulis para peneliti dalam publikasi ilmiahnya dikutip dari Science Alert, Rabu (10/6/2026).
Kematian akibat semua penyebab atau all-cause mortality merupakan ukuran yang digunakan untuk melihat kemungkinan seseorang meninggal lebih cepat dari yang seharusnya karena berbagai faktor.
Para peneliti menduga hubungan tersebut berkaitan dengan peran kesehatan mulut terhadap kondisi tubuh secara keseluruhan. Gigi yang rusak atau hilang dapat memicu peradangan kronis yang berpotensi memengaruhi organ lain. Selain itu, kehilangan gigi juga dapat mengurangi kemampuan seseorang mengunyah makanan bergizi dengan baik.
Temuan tersebut semakin menegaskan, menjaga kesehatan gigi bukan hanya penting untuk kenyamanan saat makan atau berbicara, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap kualitas hidup dan harapan hidup seseorang.
"Meskipun banyak penelitian telah mengidentifikasi jumlah gigi yang tidak hilang sebagai prediktor signifikan dari semua penyebab kematian, hanya sedikit yang menilai dampak kondisi klinis setiap gigi terhadap semua penyebab kematian," tulis tim peneliti.
Meski demikian, para ilmuwan mengakui masih ada faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian. Semisal seseorang yang tidak mendapatkan perawatan gigi memadai bisa saja berasal dari kelompok dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih rendah, yang juga berpengaruh terhadap kesehatan dan usia harapan hidup.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal Geriatrics & Gerontology oleh tim peneliti dari Institut Sains Tokyo. Penelitian tersebut menyoroti kondisi yang dikenal sebagai "kerapuhan mulut", mencakup kehilangan gigi, gangguan mengunyah, kesulitan menelan, mulut kering, hingga gangguan berbicara.
Dalam analisis terhadap 11.080 lansia, mereka yang mengalami tiga gejala kerapuhan mulut atau lebih diketahui memiliki risiko 1,23 kali lebih tinggi membutuhkan perawatan jangka panjang dan 1,34 kali lebih berisiko meninggal selama masa penelitian dibanding kelompok lainnya.
Para peneliti Universitas Osaka mengatakan studi lanjutan masih diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam mengapa jumlah gigi yang rusak atau hilang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kematian.
"Mekanisme yang mendasari hubungan antara jumlah gigi yang rusak dan ditambal dengan angka kematian akibat semua penyebab harus diteliti secara cermat dalam studi kohort yang dirancang dengan baik," demikian kesimpulan para penulis. (miq/miq) Add
source on Google [Gambas:Video CNBC]