Peneliti Pakai Ragi dari Tubuh Mumi untuk Bikin Roti, Begini Hasilnya

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
09 June 2026 14:40
Seorang peneliti memeriksa sisa-sisa mumi Otzi, seorang pria yang tubuhnya terawetkan dalam es gletser selama lebih dari 5.300 tahun, di ruang konservasi di Museum Arkeologi Tyrol Selatan di Bolzano, Italia. (Museum Arkeologi Tyrol Selatan/Eurac Rese
Foto: Seorang peneliti memeriksa sisa-sisa mumi Otzi, seorang pria yang tubuhnya terawetkan dalam es gletser selama lebih dari 5.300 tahun. via REUTERS/South Tyrol Museum of Archaeolog

Jakarta, CNBC Indonesia - Para peneliti berhasil melakukan eksperimen unik dengan mengekstrak ragi hidup dari sisa-sisa mumi prasejarah berusia sekitar 5.300 tahun dan menggunakannya untuk membuat roti sourdough.

Menurut AFP, ragi tersebut ditemukan membeku di pegunungan Alpen. Temuan yang dipublikasikan jurnal Microbiome mengungkapkan bahwa kondisi dingin ekstrem selama ribuan tahun membantu menjaga mikroorganisme tetap bertahan hidup di dalam tubuh dan lingkungan sekitarnya.

Mengutip Brussels Times, mumi itu bernama Ötzi si Manusia Es. Menurut kantor berita Prancis, Ötzi, seorang pria Zaman Perunggu yang meninggal sekitar 3300 SM setelah terkena panah, ditemukan oleh para pendaki pada 1991 di gletser di perbatasan antara Italia dan Austria. Tubuhnya terawetkan dengan sangat baik sejak kematiannya. 

Para peneliti dari Eurac Research di Bolzano dilaporkan menemukan beberapa spesies ragi yang beradaptasi dengan suhu dingin yang hidup di usus mumi, di kulitnya, dan di air yang dihasilkan oleh pencairan sebagian tubuhnya.

"Yang tidak kami duga adalah menemukan ragi," kata peneliti utama Mohamed Sarhan kepada AFP.

Tim tersebut mengidentifikasi empat spesies berbeda yang mampu bertahan hidup pada suhu di bawah nol derajat. Jamur mikroskopis ini biasanya hanya ditemukan di lingkungan yang sangat dingin seperti Antartika dan Pegunungan Alpen.

Analisis genetik menunjukkan ragi tersebut masuk ke dalam mumi tak lama setelah kematian dan tetap terawetkan di tubuh mumi selama ribuan tahun.

"Ragi-ragi ini menemani Ötzi dalam perjalanan panjangnya selama ribuan tahun," kata Frank Maixner, salah satu penulis, kepada AFP.

Setelah mengekstraksi mikroorganisme tersebut, para ilmuwan mulai membudidayakannya di laboratorium.

"Ketika Anda memberi tahu orang-orang bahwa ada ragi dari tubuh mumi, mereka langsung bertanya apakah Anda dapat membuat roti dengannya dan jawabannya ternyata bisa."

Upaya pertama dilaporkan gagal, tetapi setelah tiga bulan percobaan, tim berhasil. Sarhan menyebut bahwa mereka berhasil menghasilkan ragi sourdough yang sangat, sangat lezat. Para peneliti sekarang mempertimbangkan untuk menggunakan ragi kuno tersebut untuk membuat bir.

Di luar keunikan memanggang roti dari ragi yang terkait dengan salah satu mumi paling terkenal di dunia, para ilmuwan percaya penemuan ini dapat menghasilkan manfaat praktis.

Ragi tersebut ditemukan dapat menguraikan fenol, bahan kimia yang digunakan ketika Ötzi pertama kali dirawat setelah penemuannya untuk mencegah pertumbuhan jamur. Para peneliti mengatakan bahwa ragi tersebut berpotensi digunakan di masa depan untuk membantu membersihkan lingkungan yang terkontaminasi.

Studi ini juga memberikan wawasan lebih lanjut tentang kesehatan manusia purba. Analisis sebelumnya terhadap mikrobioma Ötzi mengidentifikasi bakteri usus yang sebagian besar telah menghilang dari masyarakat industri tetapi masih ada di antara beberapa komunitas adat di Afrika dan Amerika Selatan.

Para peneliti percaya bahwa populasi kuno mengonsumsi lebih banyak serat dan biji-bijian utuh daripada yang biasanya terkandung dalam diet modern.

Studi ini menyimpulkan bahwa Ötzi seharusnya tidak dipandang sebagai kapsul waktu yang membeku secara biologis, melainkan sebagai ekosistem kompleks yang terus menawarkan wawasan ilmiah baru lebih dari lima milenium setelah kematiannya.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features