Ramai-Ramai Warga Korea Pilih Kumpul Kebo, Ternyata Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pandangan masyarakat South Korea terhadap hubungan dan pernikahan kini berubah. Jika dulu pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah dianggap melanggar norma sosial, kini semakin banyak warga Korea Selatan melihat cohabitation atau hidup bersama sebelum menikah sebagai langkah yang wajar dan realistis.
Menurut survei yang dilakukan pada bulan Maret oleh perusahaan riset Korea, Embrain, yang melibatkan 1.050 pria dan wanita lajang berusia 19 hingga 49 tahun di seluruh negeri, 79,4% responden mengatakan bahwa tinggal bersama sebagai bagian dari persiapan pernikahan dapat diterima.
Banyak anak muda Korea kini menganggap kehidupan bersama sebelum menikah sebagai cara untuk menguji kecocokan, mulai dari kebiasaan sehari-hari, pola komunikasi, pengelolaan keuangan, hingga cara menghadapi konflik. Mereka percaya pengalaman hidup bersama bisa mengurangi risiko perceraian akibat ketidakcocokan setelah menikah.
Survei tersebut menunjukkan meningkatnya dukungan terhadap gagasan bahwa "hidup bersama sebelum menikah lebih bijaksana daripada terburu-buru menikah."
"Persetujuan terhadap pernyataan tersebut terus meningkat yang mana 54,6% pada 2018, 62,7% pada 2021, dan 67,0% pada 2026," mengutip Korea Times, Sabtu (23/5/2026).
Bentuk hidup bersama yang paling diterima secara sosial adalah "hidup bersama dengan niat untuk menikah," yang didukung oleh 60,9% responden, dari 55% pada tahun 2021 menjadi 44,7% pada tahun 2026. Demikian pula, dukungan terhadap pengakuan hidup bersama sebagai bentuk keluarga yang sah, serupa dengan praktik di beberapa negara lain, juga menurun yaitu 50,4% pada tahun 2021 dan 44,9% pada tahun 2026.
Meskipun 74,8% setuju bahwa masyarakat perlu lebih menerima beragam bentuk keluarga termasuk pasangan yang belum menikah dan orang tua tunggal, banyak yang masih berpendapat bahwa pengakuan secara institusional memerlukan perdebatan sosial lebih lanjut.
Namun di sisi lain, masyarakat Korea Selatan belum sepenuhnya menerima konsep hidup bersama tanpa pernikahan sebagai pengganti institusi keluarga formal. Banyak orang masih mendukung pernikahan sebagai bentuk hubungan yang paling ideal dan stabil.
Dukungan terhadap pemberian status hukum yang sama antara pasangan menikah dan pasangan yang hanya tinggal bersama justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, walaupun masyarakat lebih terbuka terhadap hubungan nontradisional, sebagian besar masih memandang pernikahan resmi memiliki nilai sosial dan hukum yang berbeda.
Fenomena ini juga berdampak pada meningkatnya angka kelahiran di luar nikah di Korea Selatan.
Menurut Komite Kepresidenan Korea untuk Masyarakat yang Menua dan Kebijakan Kependudukan, proporsi bayi yang lahir di luar nikah mendekati 6% pada tahun 2024. Lebih dari 80% orang berusia 20-an dan 30-an merespons secara positif terhadap hidup bersama di luar nikah.
Para ahli memperkirakan bahwa baik hidup bersama maupun kelahiran di luar nikah akan terus meningkat di Korea.
Mereka berpendapat bahwa meskipun penerimaan sosial semakin meningkat, prasangka yang masih ada tetap ada, sehingga diperlukan diskusi lebih lanjut dan reformasi kebijakan terutama terkait perawatan anak, perlindungan hukum, dan sistem dukungan bagi anak-anak yang lahir di luar nikah.
source on Google [Gambas:Video CNBC]