2,3 Juta Anak RI Belum Pernah Imunisasi, Hoaks Jadi Biang Keroknya

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
12 May 2026 15:50
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono saat kunjungan lapangan tematik "Mengejar Anak Zero Dose" di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono melakukaukan kunjungan lapangan tematik "Mengejar Anak Zero Dose" di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran anak demam usai imunisasi sempat membuat Nia ragu membawa putranya, Kenzi (3), kembali ke posyandu. Bahkan, nenek sang anak sempat menyarankan agar imunisasi dihentikan. Namun kabar soal meningkatnya kasus campak membuatnya berubah pikiran.

"Awalnya takut karena dulu habis imunisasi demam. Neneknya juga sempat bilang sudah enggak usah imunisasi lagi. Tapi pas dengar soal campak jadi kepikiran lagi untuk imunisasi," kata Nia usai membawa Kenzi menjalani imunisasi DPT ketiga di Posyandu Tela 9, Kota Bandung, Selasa (12/5/2026).

Berbeda dengan Nia, Mia mengaku tidak ragu mengimunisasi anaknya yang baru berusia satu tahun. Ia mengatakan, sang anak sudah mendapatkan imunisasi sejak lahir dan kini menjalani imunisasi kedua di Puskesmas Moch Ramdan, Bandung.

"Saya punya buku catatan imunisasi juga jadi tahu jadwalnya. Biar anak sehat dan terhindar dari penyakit," ujarnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan masih ada sekitar 2,3 juta anak di Indonesia yang masuk kategori zero dose atau belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali. Kondisi ini disebut menjadi salah satu penyebab munculnya kembali kejadian luar biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penurunan cakupan imunisasi sempat terjadi saat pandemi Covid-19 karena layanan kesehatan lebih fokus menangani pandemi.

"Akibatnya memang terjadi beberapa tahun kemudian. Salah satu di antaranya adalah KLB campak yang terjadi beberapa waktu yang lalu," ujar Dante dalam kujungan lapangan tematik "Mengejar Anak Zero Dose Kota Bandung, Jawa Barat", Selasa.

Dante bilang, anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi menjadi tidak terlindungi dari berbagai penyakit menular seperti campak, polio, maupun DPT.

Ia juga menyoroti maraknya hoaks soal vaksin yang membuat sebagian orang tua takut mengimunisasi anaknya. Salah satu hoaks yang sempat ramai adalah tudingan vaksin menyebabkan autisme.

"Ternyata studi empiris yang kita lakukan, jutaan orang di seluruh dunia tidak pernah menimbulkan efek samping autis," kata Dante.

Selain itu, isu keagamaan juga disebut masih menjadi tantangan. Dante menjelaskan, vaksin campak yang sempat dipersoalkan telah melalui proses pemurnian dan dinyatakan aman serta halal.

"Sudah diuji oleh MUI, vaksin itu sudah sama sekali tidak mengandung unsur yang berasal dari tripsin babi tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pemerintah daerah kini berupaya memperkuat peran posyandu untuk mengejar target penurunan zero dose di masyarakat.

"Fenomena anak zero dose pada dasarnya bukan hanya soal data dan statistik. Ada kesejahteraan anak-anak yang perlu kita jamin untuk kepastian masa depan kita bersama," kata Farhan.

Farhan juga mengakui masih adanya penolakan imunisasi akibat pengaruh gerakan antivaksin hingga perbedaan pandangan keagamaan di masyarakat.
Oleh sebab itu, menurutnya keterlibatan tokoh agama dan masyarakat menjadi penting dalam edukasi imunisasi.

"Pemerintah Kota Bandung kini terus memperkuat peran posyandu dan pendekatan berbasis kewilayahan untuk mengejar penurunan angka zero dose," tegasnya.

Data Kemeknes mencatat, jumlah anak zero dose di Jawa Barat turun dari sekitar 102 ribu pada 2024 menjadi 67 ribu pada 2025. Sementara di Kota Bandung, jumlahnya kini sekitar 6.700 anak, turun dari sekitar 8.000 anak pada tahun sebelumnya.

Dante menegaskan imunisasi bukan hanya melindungi satu anak, tetapi juga membangun kekebalan komunitas agar penyakit menular tidak kembali merebak.

"Kalau ada satu orang saja yang tidak imunisasi maka kita tidak bisa mengeliminasi atau memberantas penyakit tertentu di wilayah tersebut," katanya.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Benarkah Imunisasi/Vaksin Picu Autisme Anak? Ini Penjelasan Dokter


Most Popular
Features