Studi Temukan Durasi Makan Terbaik untuk Turunkan Berat Badan
Jakarta, CNBC Indonesia - Riset terbaru menunjukkan, membatasi waktu makan hanya dalam delapan jam sehari bisa menjadi strategi efektif untuk menurunkan sekaligus menjaga berat badan dalam jangka panjang.
Temuan ini dipresentasikan dalam ajang European Congress on Obesity di Malaga, Spanyol. Penelitian tersebut menemukan, orang dengan kelebihan berat badan hingga obesitas yang menerapkan pola makan terbatas waktu berhasil menurunkan berat badan dan mempertahankannya hingga setahun.
Penelitian ini menyoroti efektivitas metode tersebut tidak bergantung pada jam makan, baik dilakukan lebih pagi atau lebih siang. Selama pola ini dijalankan secara konsisten selama tiga bulan, hasilnya tetap signifikan.
Peneliti utama, Dr Alba Camacho-Cardenosa dari University of Granada menjelaskan, kunci utama dari metode ini justru terletak pada durasi puasa selama 16 jam setiap hari.
"Pembatasan waktu makan menjadi delapan jam per hari selama tiga bulan dapat menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan hingga setidaknya satu tahun," ujarnya dikutip dari Independent, Senin (4/5/2026).
Meski belum melalui proses peer review, hasil awal penelitian ini dinilai menjanjikan bagi mereka yang kesulitan mengelola berat badan. Penelitian sebelumnya yang dipublikasikan di Nature Medicine juga menunjukkan hasil serupa, yakni pembatasan waktu makan dapat menurunkan berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan kardiometabolik.
Dalam studi terbaru ini, peneliti mengamati 99 partisipan selama 12 bulan. Mereka dibagi menjadi empat kelompok: kelompok yang makan lebih dari 12 jam sehari, kelompok dengan jendela makan 8 jam mulai sebelum pukul 10.00, kelompok dengan jendela makan 8 jam mulai setelah pukul 13.00, serta kelompok yang bebas menentukan sendiri waktu makan 8 jamnya.
Semua peserta juga diberikan panduan pola makan Mediterania agar tetap mengonsumsi makanan sehat. Hasilnya, kelompok yang makan lebih dari 12 jam hanya mengalami penurunan berat badan rata-rata 1,4 kilogram.
Sementara itu, kelompok dengan pembatasan waktu makan berhasil menurunkan berat badan sekitar 3 hingga 4 kilogram. Tak hanya itu, kelompok dengan pola makan terbatas juga mengalami penurunan lingkar pinggang dan pinggul hingga beberapa sentimeter, serta mampu mempertahankan penurunan berat badan lebih baik setelah satu tahun.
Setelah 12 bulan, kelompok yang makan lebih dari 12 jam justru mengalami kenaikan berat badan rata-rata 0,4 kilogram. Sebaliknya, kelompok dengan pola makan terbatas waktu masih mencatat penurunan sekitar 2 kilogram.
Sekitar 85% hingga 88% peserta yang menjalani pola makan terbatas waktu mengaku mampu konsisten mengikuti metode ini.
Koordinator studi, Dr Jonatan Ruiz, menyebut metode ini relatif mudah dijalankan dibanding menghitung kalori harian.
"Metode puasa intermiten ini tampak lebih praktis dan tidak terlalu melelahkan, sehingga bisa menjadi alternatif bagi orang dewasa dengan kelebihan berat badan," katanya.
Namun, peneliti dari University of Cambridge Metabolic Research Laboratories, Dr Maria Chondronikola, menekankan perlunya studi lanjutan untuk memastikan efektivitas metode ini secara lebih mendalam.
Ia menilai, faktor seperti kepatuhan terhadap jadwal makan, jumlah kalori yang dikonsumsi, serta dampak terhadap metabolisme masih perlu diteliti lebih lanjut.
source on Google [Gambas:Video CNBC]