Bukan Cuma Gaya Hidup, Golongan Darah ini Memicu Risiko Diabetes

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
21 April 2026 14:48
Ilustrasi Cek Gula (Photo by Klaus Nielsen from Pexels)
Foto: Ilustrasi pengecekan gula darah. (Photo by Klaus Nielsen from Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko diabetes tipe 2 ternyata tidak hanya dipengaruhi pola makan dan gaya hidup. Studi terbaru mengungkap, golongan darah juga bisa ikut berperan dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit ini.



Penelitian yang dirilis pada 2024 menemukan, individu dengan golongan darah B memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibanding golongan darah lain. Peningkatan risikonya tercatat sekitar 28%, baik untuk rhesus positif maupun negatif.

Temuan ini berasal dari analisis besar yang menggabungkan berbagai studi sebelumnya untuk melihat hubungan antara golongan darah dan sejumlah penyakit. Penelitian ini dipimpin oleh epidemiolog Fang-Hua Liu dari Shengjing Hospital of China Medical University.

Hasilnya, dari sekitar 270 hubungan antara golongan darah dan kondisi kesehatan yang dianalisis, hanya satu yang dinilai memiliki bukti kuat, yakni kaitan antara golongan darah B dan diabetes tipe 2.

"Tinjauan menyeluruh saat ini mencakup 51 tinjauan sistematis dengan artikel meta-analisis yang berisi 270 asosiasi. Kami menghitung ulang setiap asosiasi dan hanya menemukan satu (contoh) bukti yang meyakinkan tentang asosiasi antara golongan darah B dan risiko diabetes melitus tipe 2 dibandingkan dengan golongan darah non-B," tulis kajian tersebut dikutip dari Yahoo Health, Selasa (21/4/2026).

Secara ilmiah, golongan darah manusia dibedakan berdasarkan keberadaan antigen pada sel darah merah, yakni A, B, AB, atau tidak ada sama sekali (O), serta faktor Rhesus (Rh) yang menentukan positif atau negatif. Perbedaan biologis ini diduga memengaruhi kerentanan seseorang terhadap penyakit tertentu.

Walau begitu, para peneliti menekankan, pengaruh golongan darah terhadap risiko diabetes masih jauh lebih kecil dibanding faktor lain. Sebagai perbandingan, konsumsi daging olahan 50 gram per hari dapat meningkatkan risiko hingga 37%, gaya hidup minim aktivitas fisik bahkan hingga 112%, sementara kelebihan berat badan menjadi salah satu faktor risiko terbesar.

Studi ini belum menjelaskan secara pasti mekanisme di balik hubungan tersebut. Namun, riset lanjutan mengindikasikan kemungkinan peran mikrobioma usus, meski hal ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Studi Ungkap Golongan Darah yang Paling Berisiko Sakit Jantung


Most Popular
Features