Negara dengan Harga Rumah Paling Tak Terjangkau di Dunia, RI Termasuk

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
07 April 2026 12:30
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.
Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Rumah merupakan kebutuhan primer setiap manusia. Sayangnya, harga properti yang mahal membuat tak semua orang mampu memiliki hunian sendiri. 

Di sejumlah negara, harga rumah sangat mahal hingga tak terjangkau oleh warganya. Kondisi ini dapat terjadi karena rasio antara pendapatan rata-rata dengan harga rumah di negara tersebut tidak terlalu besar. Semakin rendah rasio harga rumah terhadap rata-rata pendapatan, maka semakin terjangkau harga rumah di negara tersebut.

Laporan terbaru The Economist mengungkap bahwa negara dengan harga rumah paling tak terjangkau mayoritas berada di Asia.

Kota-kota di Asia menghadapi backlog perumahan yang parah seiring percepatan urbanisasi. Masalah utamanya bukan cuma harga mahal, tapi harga rumah jauh lebih cepat naik dibanding pendapatan. Selain itu, pasokan rumah tidak cukup dibanding permintaan. 

Filipina disebut sebagai salah satu yang paling parah. Harga rumah bisa mencapai hingga 20 kali pendapatan tahunan. 

Berikut adalah negara dengan hunian paling tidak terjangkau di dunia berdasarkan laporan The Economist:

1. Filipina

2. Sri Lanka

3. Thailand

4. India

5. Korea Selatan

6. Indonesia

7. China

8. Amerika Serikat

9. Inggris Raya

Di negara maju, kota-kota seperti Hong Kong, Sydney, dan Vancouver masih masuk kategori "sangat tidak terjangkau" secara global. Namun, berbeda dengan negara berkembang, masalah di negara maju lebih banyak dipicu oleh keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan di pusat ekonomi.

Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan bahwa krisis hunian kini menjadi persoalan global dengan karakter berbeda di tiap negara. Di negara berkembang, persoalan utama terletak pada ketimpangan antara harga dan pendapatan, sementara di negara maju lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar dan ketersediaan lahan.

 

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Jakarta Geser Tokyo Jadi Kota Terpadat di Dunia


Most Popular
Features