Pola Makan Ini Tingkatkan Risiko Jantung 67%, Banyak Orang Tak Sadar
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan mengonsumsi makanan olahan ternyata berisiko serius bagi kesehatan. Studi terbaru menemukan, konsumsi tinggi makanan ultra-proses bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 67%.
Makanan ultra-proses kini memang semakin mendominasi pola makan modern. Bahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan lebih dari 70% pasokan makanan di Amerika Serikat termasuk kategori ini.
Secara sederhana, makanan ultra-proses adalah produk yang dibuat dari bahan hasil ekstraksi atau sintetis, seperti gula tambahan, lemak, pengawet, hingga pewarna buatan. Contohnya mulai dari sereal, yogurt rasa, nugget, sosis, daging olahan, hingga makanan siap saji seperti pizza beku dan minuman ringan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal JACC: Advances ini melibatkan 6.814 orang dewasa usia 45-84 tahun yang awalnya tidak memiliki penyakit jantung. Selama 12 tahun, peneliti memantau pola makan dan kondisi kesehatan peserta.
Hasilnya, mereka yang paling banyak mengonsumsi makanan ultra-proses (sekitar 9,3 porsi per hari) memiliki risiko 67% lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, atau kematian terkait jantung dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi sekitar 1,1 porsi per hari.
Tak hanya itu, setiap tambahan satu porsi makanan ultra-proses per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 5,1%. Menurut kardiolog Minhal Makshood, angka ini tergolong signifikan, meski penelitian ini menunjukkan hubungan (korelasi), bukan sebab-akibat langsung.
"Risiko meningkat secara bertahap, dengan setiap porsi tambahan per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 5,1%, statistik yang cukup signifikan," kata Minhal Makshood, M.D., seorang ahli jantung di MedStar Montgomery Medical Center dikutip dari Prevention, Kamis (2/4/2026).
Kenapa Bisa Berbahaya?
Dampak makanan ultra-proses terhadap jantung tidak terjadi dalam satu jalur saja. Ketua kardiologi Allen Taylor menjelaskan, makanan ini cenderung tinggi garam, gula tambahan, dan lemak tidak sehat, kemudian juga mengandung kalori tinggi tapi rendah serat, dan menggantikan makanan utuh yang lebih bernutrisi.
Selain itu, proses pengolahan juga bisa mengganggu mikrobioma usus, memicu peradangan, hingga meningkatkan risiko hipertensi dan kolesterol tinggi. Itu semua faktor utama penyakit jantung.
Konsumsi tinggi makanan ultra-proses sebenarnya mudah terjadi. Satu hari saja bisa terdiri dari sereal kemasan saat sarapan, snack bar, sandwich daging olahan, keripik, hingga makanan cepat saji untuk makan malam.
Artinya, tanpa disadari, banyak orang sudah mengonsumsi dalam jumlah tinggi setiap hari. Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menekankan tidak perlu langsung menghindari sepenuhnya.
Pendekatan realistis seperti pola 80:20 disarankan, yakni mayoritas konsumsi makanan utuh seperti sayur, buah, ikan, dan kacang-kacangan, sambil tetap memberi ruang untuk makanan olahan sesekali. Pola makan seperti diet Mediterania juga disebut lebih ideal karena menekankan makanan segar dan minim proses.
Pada akhirnya, kuncinya bukan pada satu makanan, melainkan pola makan secara keseluruhan. Semakin besar porsi makanan ultra-proses dalam diet harian, semakin tinggi pula risiko gangguan jantung dalam jangka panjang.
source on Google [Gambas:Video CNBC]