Gen Z Perempuan Makin Banyak Nganggur, Studi Ungkap Bukan Karena Malas

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
10 March 2026 13:15
Seorang pekerja melintas di depan mural ilustrasi di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan, Senin, (13/10/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Seorang pekerja melintas di depan mural ilustrasi di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan, Senin, (13/10/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perempuan dari generasi Z kini menghadapi tantangan baru di pasar kerja global. Sebuah riset terbaru menunjukkan tingkat pengangguran perempuan muda meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meski peningkatan ini bukan disebabkan oleh kemalasan seperti yang kerap diasumsikan.

Temuan tersebut diungkap dalam laporan Women in Work 2026 yang dirilis oleh perusahaan jasa profesional PwC di Inggris. Studi ini menunjukkan, perempuan Gen Z berusia 16 hingga 24 tahun semakin sulit mendapatkan pekerjaan, terutama setelah pandemi.

"Tingkat pengangguran perempuan naik dari 3,5% pada 2023 menjadi 4,2% pada 2024. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah perempuan muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan," tulis laporan studi tersebut seperti dikutip dari New York Post, Selasa (10/3/2026).

Kelompok ini dikenal dengan istilah NEET (not in education, employment, or training). Menurut peneliti, perempuan Gen Z yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan masalah kesehatan memiliki risiko jauh lebih tinggi masuk kategori NEET.

Bahkan, kemungkinan mereka menjadi NEET bisa mencapai empat kali lebih besar dibandingkan rata-rata perempuan muda lainnya, yakni 48% dibanding 12,2%. Selain itu, perubahan teknologi juga ikut memperlebar kesenjangan. Banyak perempuan muda dinilai belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengikuti perkembangan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya didominasi perempuan.

CEO perusahaan rekrutmen global Bentley Lewis, Lewis Maleh bilang, perempuan Gen Z juga menghadapi keterbatasan jalur karier dibandingkan laki-laki seusianya. Ia menjelaskan, laki-laki muda yang lulus sekolah dengan nilai biasa saja masih memiliki banyak jalur pekerjaan, seperti di sektor konstruksi, logistik, atau pekerjaan teknis yang saat ini banyak membutuhkan tenaga kerja.

Sebaliknya, perempuan dengan tingkat pendidikan serupa cenderung masuk ke sektor ritel, perawatan, atau perhotelan.

"Sektor-sektor ini justru sedang menyusut dan memiliki peluang pengembangan karier yang terbatas," kata Maleh.

Menurutnya, persoalannya bukan pada apa yang kurang dari perempuan muda, melainkan pada minimnya jalur karier yang tersedia bagi mereka. Untuk meningkatkan peluang kerja, Maleh mendorong perempuan muda untuk mulai mengembangkan keterampilan di bidang teknologi, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan robotika.

"Pelajari cara menggunakan alat AI dengan benar. Keahlian praktis AI tidak memerlukan gelar, dan perusahaan sangat membutuhkannya," kata ia.

Selain itu, program magang atau pelatihan di sektor digital, energi hijau, dan teknologi kesehatan juga dinilai masih jarang diminati perempuan muda, padahal peluangnya cukup besar. Maleh juga menyarankan generasi muda untuk tidak menunggu kesempatan kerja datang begitu saja.

"Kandidat yang berhasil menembus posisi tinggi di dunia kerja tidak selalu mereka yang memiliki nilai akademik terbaik, melainkan mereka yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, mampu beradaptasi, serta aktif membangun portofolio dan jaringan professional," tukasnya.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jutaan Gen Z Nganggur, CEO Sarankan Adaptasi Jadi Teknisi & Sopir Truk


Most Popular
Features