Awas Takjil Berbahaya! Ini Ciri Makanan Mengandung Formalin dan Boraks
Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat diimbau lebih waspada saat membeli makanan, terutama jajanan yang dijual di pasaran hingga takjil saat berbuka. Pasalnya, sejumlah produk pangan masih berpotensi disalahgunakan dengan bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, hingga pewarna tekstil.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan, sejumlah bahan kimia yang seharusnya digunakan untuk keperluan industri masih kerap disalahgunakan pada pangan. Tujuannya agar makanan terlihat lebih menarik, memiliki tekstur tertentu, atau bertahan lebih lama.
Salah satu bahan berbahaya yang masih sering ditemukan pada pangan adalah formalin. Zat ini, kata BPOM dikutip dari Instagram resminya, sebenarnya digunakan sebagai bahan pengawet untuk kayu, tekstil, hingga organ tubuh.
Namun secara ilegal, formalin kadang disalahgunakan untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak. BPOM menjelaskan makanan yang mengandung formalin biasanya memiliki beberapa tanda, antara lain:
1. Teksturnya tidak mudah putus atau hancur
2. Memiliki bau khas formalin
3. Dapat bertahan lebih dari satu hari di suhu ruang
Beberapa jenis pangan yang sering ditemukan mengandung formalin di antaranya mi basah, tahu, hingga ikan.
"Konsumsi formalin secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan," kata BPOM
Selain formalin, masyarakat juga diminta mewaspadai penggunaan boraks. Bahan yang juga dikenal dengan sebutan bleng atau pijer ini kerap disalahgunakan untuk membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal.
Makanan yang mengandung boraks biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Teksturnya sangat kenyal
2. Tidak mudah hancur dan tidak lengket
3. Pada beberapa produk seperti kerupuk gendar dapat menimbulkan rasa getir
Jenis pangan yang kerap ditemukan mengandung boraks antara lain bakso, mi basah, siomay, lontong, dan kerupuk gendar. Selain itu, BPOM juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penggunaan pewarna tekstil pada makanan. Salah satunya adalah Rhodamin B, zat pewarna sintetis yang sebenarnya digunakan pada industri kertas dan tekstil.
Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B biasanya memiliki warna merah muda atau pink yang sangat mencolok, tampak berpendar, serta warna yang tidak merata atau muncul titik-titik warna. Zat ini kerap ditemukan pada kerupuk, jajanan pasar seperti kue lapis, hingga minuman.
Ada pula methanyl yellow, pewarna tekstil yang kadang disalahgunakan pada makanan seperti tahu kuning atau kerupuk kuning. Pangan yang mengandung zat ini umumnya memiliki warna kuning sangat mencolok, tampak berpendar, dan tidak homogen.
BPOM menegaskan konsumsi bahan-bahan berbahaya tersebut secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga meningkatkan risiko kanker.
"Kenali risikonya, perhatikan ciri-cirinya, dan pilih pangan yang jelas keamanannya. Yuk, jadi konsumen cerdas demi kesehatan jangka panjang," tulis BPOM.
(miq/miq) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]