Viral Fenomena Remaja Ganti Identitas Jadi Hewan, Apa Motivasinya?

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
03 March 2026 12:40
anjjing hewan peliharaan
Foto: Ilustrasi. Foto: CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena sosial yang tak biasa tengah terjadi di Argentina. Sejumlah remaja viral di media sosial karena mengidentifikasi diri mereka sebagai hewan, baik secara mental, spiritual, maupun psikologis.

Pada satu waktu di salah satu plaza di Buenos Aires, suasana taman berubah seperti hutan kecil. Seorang remaja bernama Sofía tampak mengenakan topeng anjing beagle dan berlari dengan kedua tangan dan kaki menyentuh tanah.

Di sisi lain, remaja 15 tahun bernama Aguara melompati rintangan sambil menirukan gerakan presisi seekor anjing ras Belgia. Beberapa remaja lain terlihat mengenakan kostum kucing dan rubah, bahkan bertengger di dahan pohon sambil menjaga jarak dari pengunjung taman yang penasaran.

Kelompok ini dikenal sebagai "therian," yakni individu yang merasa memiliki keterikatan identitas dengan hewan non-manusia. Dalam beberapa bulan terakhir, tren ini melonjak di media sosial Argentina, terutama di TikTok.

Tagar #therian telah digunakan lebih dari 2 juta kali secara global. Argentina disebut sebagai negara dengan tingkat interaksi tertinggi di kawasan Amerika Latin.

Aguara, yang mengaku mengidentifikasi diri sebagai anjing Belgian Malinois, menyebut usianya setara dua tahun dua bulan dalam hitungan umur anjing. Meski demikian, ia menegaskan tetap menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya.

"Saya bangun seperti orang normal dan menjalani hidup seperti orang normal. Tapi saya punya momen ketika saya suka menjadi anjing," ujarnya dilansir AP, Selasa (3/3/2026).

Sebagai pemimpin kelompok yang ia sebut sebagai "pack", Aguara memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di TikTok dan rutin mengoordinasikan pertemuan komunitas di sekitar ibu kota Argentina.

Sementara itu, Aru, remaja 16 tahun yang mengenakan topeng anjing laut saat pertemuan di taman bilang, dirinya bagian dari cabang otherpaw. Kelompok ini mengenakan topeng dan ekor atau bergerak dengan empat kaki semata untuk kesenangan.

"Ini tidak selalu soal mengidentifikasi diri sebagai hewan," kata Aru.

Ia menilai tren therian cepat berkembang di Argentina karena lingkungan sosial yang relatif bebas dan terbuka. Bagi sebagian remaja, komunitas ini menjadi ruang aman untuk merasa diterima.

Fenomena ini pun memicu beragam respons publik, mulai dari tawa dan kebingungan hingga kemarahan. Seiring tren yang kian meluas, kalangan psikolog pun mulai mengkaji dampaknya dalam ruang diskusi publik.

Débora Pedace, psikolog sekaligus Direktur Integral Therapeutic Center di Buenos Aires, menilai fenomena ini memunculkan campuran emosi di masyarakat, mulai dari bingung hingga marah.

"Dari sudut pandang psikologis, ini adalah bentuk identifikasi simbolis dengan hewan," ujar Pedace.

Menurutnya, kondisi tersebut baru dianggap patologis atau mengkhawatirkan apabila berubah menjadi keyakinan yang sangat mendalam dan individu sepenuhnya mengambil peran sebagai hewan, yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features