Menkes Bongkar 'Kasta' Takjil, Gorengan Paling Bawah

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
24 February 2026 16:45
Ira Dijaya (41)melayani pembeli gorengan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat (7/1/2022). Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), secara nasional harga minyak goreng curah pada 29 Desember lalu hanya Rp.18.400/Kg. Pada 6 Januari 2022 atau kemarin, menyentuh Rp. 18.550/Kg, atau naik 0,81%. Kemudian minyak goreng kemasan bermerk 1 pada 30 Desember 2021 harganya Rp. 20.600/Kg. Sementara kemarin menjadi Rp. 20.800/Kg, naik 0,97%. Begitu juga minyak goreng kemasan bermerk 2. Di mana pada 30 Desember masih Rp. 20.030/Kg, kemarin menjadi Rp. 20.300/Kg atau meningkat 1,34%. Harga minyak goreng di pasar tradisional masih tinggi. Pedagang menginginkan harga segera normal kembali. Menurut Ira penjual gorengan "minyak goreng 2 liter kemasan mencapai Rp.38-40 ribu itu kalo sedang ada promo di swalayan, tapi kalau tidak promo harga Rp. 40 ribu keatas. Untuk penjualan Ira tetap menjualnya 1 gorengan Rp.1.500 sedangkan untuk modal berjualan biasanya Rp. 600 ribu sekarang menjadi Rp.800 ribu.
Harga ini tentu naik sangat tinggi dibandingkan sebelumnya dan cukup menyulitkan dirinya sebagai penjual makanan. 
"Kalau ukuran gorengan dikecilin, pasti protes. Padahal bukan hanya minyak goreng yang mahal," tutur Ira. 
Keluhan sama juga diungkapkan penjual gorengan keliling lain. Ferdi (29) mengaku "selalu membeli minyak kemasan untuk menjamin gorengan yang dijualnya enak. "Apalagi saya jualan di dekat perkantoran. Jadi enggak enak kalau pakai minyak goreng curah," tuturnya. 
Ferdi  juga mengaku keberatan dengan harga yang serba mahal, baik minyak goreng maupun komoditas lain. Ia mengaku tidak bisa menaikkan harga makanan dan gorengan yang dijualnya. Untuk itu ia sangat berharap agar harga minyak goreng bisa segera turun atau digelar operasi pasar.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Gorengan (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membagikan peringkat takjil buka puasa versi dirinya dalam video Instagram program Budi Gemar Sharing (#BGS). Dalam video tersebut, ia mengelompokkan menu berbuka ke dalam empat kategori, mulai dari paling sehat (A) hingga paling tidak sehat (D).

Menkes menyebut kurma sebagai pilihan terbaik untuk berbuka dan menempatkannya di peringkat A. Ini karena kurma mengandung gula alami dan tinggi serat sehingga baik dikonsumsi setelah seharian berpuasa.

"Sudah pasti kurma di peringkat A! Seperti pesan guru ngaji saya dulu berbuka dengan kurma, dan itu sunnah Nabi," kata Menkes dikutip dari reel Instagram @bgsadikin, Selasa (24/2/2026).

Sementara itu, kolak pisang ditempatkan di kategori B atau cukup sehat. Meski ada tambahan gula, kolak dinilai masih mengandung pisang dan ubi yang kaya serat.

Untuk kategori C atau kurang sehat, Menkes memasukkan es buah dan biji salak. Ia menilai es buah kerap didominasi sirup dan susu kental manis dibanding buah aslinya. Biji salak juga dianggap kurang ideal karena kandungan tepung dan gula yang cukup tinggi.

Adapun gorengan serta kue basah seperti selendang mayang masuk kategori D atau paling tidak sehat. Alasannya, makanan tersebut didominasi tepung dan minyak goreng.

"Sudah tahu kan urutannya seperti apa? Jadi kalian tetap mau makan yang ini atau beralih ke yang ini?" ujar Menkes dalam video tersebut sambil menunjuk pilihan takjil.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ngemil Gorengan Memang Enak, Tapi Menkes BGS Ingatkan Ini


Most Popular
Features