Virus Nipah Merebak, Negara-Negara Asia Periksa Suhu Penumpang Bandara

hsy,  CNBC Indonesia
08 February 2026 20:45
Seorang petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri membuang limbah biohazard dari pusat isolasi virus Nipah di rumah sakit pemerintah di Kozikode, negara bagian Kerala selatan India pada 16 September 2023. (Photo by AFP)
Foto: Seorang petugas kesehatan membuang limbah biohazard dari pusat isolasi virus Nipah di rumah sakit pemerintah di Kozikode, negara bagian Kerala selatan India. (AFP/-)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi seorang wanita meninggal di Bangladesh utara bulan lalu setelah tertular virus Nipah yang mematikan. Sementara itu, negara-negara di Asia meningkatkan pemantauan potensi wabah.

Mengutip laporan Independent, pasien yang berusia sekitar 40 hingga 50 tahun mengalami gejala yang sesuai dengan virus Nipah pada 21 Januari, termasuk demam dan sakit kepala diikuti oleh produksi air liur berlebih, disorientasi, dan kejang, kata WHO. Wanita itu meninggal seminggu kemudian dan dipastikan terinfeksi virus Nipah sehari kemudian, menurut pihak berwenang.

Pasien tersebut dilaporkan tidak memiliki riwayat traveling, tetapi mengonsumsi getah pohon kurma mentah. Sebanyak 35 orang yang melakukan kontak dengan pasien sedang dipantau, kata WHO.

Kasus Nipah di Bangladesh ini menyusul dua kasus virus yang diidentifikasi di negara tetangga India. Temuan kasus virus Nipah memaksa negara-negara di Asia meningkatkan pemeriksaan bandara.

Nipah adalah virus mematikan yang belum ada vaksin atau obatnya. Virus ini dianggap sebagai patogen berisiko tinggi oleh WHO. Para ahli mengatakan infeksi pada manusia jarang terjadi dan biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar, seringkali melalui buah yang terkontaminasi.

Virus ini dapat berakibat fatal hingga 75 persen kasus, tetapi tidak mudah menyebar antar manusia. Penyintas mungkin mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang terus-menerus atau perubahan kepribadian, menurut Badan Keamanan Kesehatan Inggris.

Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan mulai menerapkan pemeriksaan suhu di bandara. Singapura bahkan memerintahkan pekerja migran yang tiba dari Benggala Barat untuk menjalani pemeriksaan suhu harian dan memantau gejala selama 14 hari.

Di luar Asia Selatan, infeksi juga telah dilaporkan di Filipina. Penyelidikan menunjukkan bahwa infeksi tersebut disebabkan oleh virus Nipah atau strain yang sangat mirip dengan Nipah.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tetangga RI Diserang Wabah Virus Nipah, Indonesia Wajib Waspada!


Most Popular
Features