RI Punya Cara Terbaru Turunkan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes
Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nurul Arfiyanti Yusuf, memaparkan inovasi sistem penghantaran obat melalui pengembangan glibenklamid berbasis nanotransetosom untuk aplikasi transdermal. Glibenklamid merupakan obat antidiabetes yang telah lama digunakan
"Glibenklamid merupakan obat antidiabetes yang telah lama digunakan, namun memiliki keterbatasan berupa kelarutan air dan bioavailabilitas oral yang rendah serta risiko efek samping akibat metabolisme lintas pertama di hati," kata Nurul, dalam Webinar Bincang Riset I, bertema "Peran Bioinformatik, Sintesis Organik, dan Teknologi Formulasi dalam Mendukung Riset Pengembangan Bahan Baku Obat Nasional", dikutip Sabtu (31/1/2026).
Melalui pendekatan transdermal, obat dihantarkan langsung melalui kulit menuju sirkulasi sistemik, sehingga berpotensi mengurangi efek samping dan meningkatkan kepatuhan pasien.
Untuk mendukung efektivitas penetrasi kulit, glibenklamid diformulasikan dalam bentuk nanotransetosom, sistem vesikular lipid elastis yang mengombinasikan keunggulan etosom dan transfersom.
Nanotransetosom glibenklamid kemudian diformulasikan ke dalam bentuk patch transdermal berbasis polimer HPMC dan PVP K30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini mampu meningkatkan kelarutan, stabilitas, serta efektivitas antidiabetes dibandingkan sediaan glibenklamid konvensional.
"Patch dengan polimer HPMC dan PVP K30 terbukti stabil selama penyimpanan dan mampu mempertahankan efek penurunan kadar glukosa darah hingga 24 jam," tandas Nurul.
(wur/wur)[Gambas:Video CNBC]