Psikolog Ungkap Dua Kebiasaan Aneh yang Jadi Tanda Kecerdasan

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
19 January 2026 09:35
Ilustrasi kesepian. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pikiran yang sering melayang dan kebiasaan berbicara dengan diri sendiri kerap dianggap sebagai tanda kurang fokus atau disiplin. Namun menurut psikolog, dua kebiasaan yang sering dicap mengganggu ini justru bisa menjadi sinyal kecerdasan, jika muncul dalam konteks yang tepat.

Dalam riset psikologi modern, perilaku mental yang tampak tidak produktif ini dinilai berkaitan dengan fleksibilitas kognitif, kreativitas, hingga kemampuan otak berpindah antar mode berpikir secara adaptif. Artinya, kebiasaan tersebut bukan selalu gangguan, melainkan bagian dari cara otak bekerja di balik layar.

Berikut dua kebiasaan yang sering diremehkan, tetapi menyimpan makna psikologis lebih dalam seperti dikutip Forbes, Senin (19/1/2026).

1. Sering Melamun atau Pikiran Mengembara

Mind-wandering atau kebiasaan pikiran melayang dari tugas utama selama ini identik dengan kurangnya perhatian. Namun, studi terbaru justru menunjukkan sisi lain dari kebiasaan ini.

Sebuah penelitian tahun 2025 terhadap lebih dari 1.300 orang dewasa menemukan, melamun secara sengaja berkorelasi dengan performa kreativitas yang lebih tinggi. Data pencitraan otak menunjukkan adanya koneksi yang lebih kuat antara jaringan pengendali eksekutif dan default mode network, yaitu sistem otak yang berperan dalam imajinasi dan pemikiran internal.

Penelitian lain juga menunjukkan, orang dengan kecenderungan mind-wandering spontan memiliki kemampuan task-switching yang lebih baik, alias lebih cepat beralih antar tugas mental. Ini merupakan salah satu indikator berpikir fleksibel.

Studi tahun 2024 yang melibatkan lebih dari 3.300 partisipan bahkan menemukan, pikiran spontan cenderung berpusat pada tujuan dan membantu konsolidasi memori. Dengan kata lain, pikiran yang tampak "menganggur" sering kali justru sedang bekerja secara adaptif.

Meski begitu, para peneliti menegaskan manfaat ini hanya muncul jika mind-wandering diimbangi dengan kontrol perhatian dan kesadaran diri.

2. Sering Berbicara dengan Diri Sendiri

Berbicara sendiri, baik di dalam hati maupun secara pelan, kerap dianggap aneh. Namun, riset psikologi menunjukkan, self-talk atau inner speech justru berperan penting dalam regulasi diri, perencanaan, dan metakognisi.

Sebuah studi tahun 2023 pada mahasiswa menemukan hubungan kuat antara kebiasaan berbicara dengan diri sendiri dan kejelasan konsep diri serta kemampuan mengatur perilaku. Orang yang sering menggunakan inner speech cenderung memiliki pemahaman diri yang lebih jelas dan kontrol diri yang lebih baik.



Self-talk bukan berarti tanda kecerdasan yang mutlak. Namun, kebiasaan ini berfungsi sebagai penyangga kognitif yang membantu otak menyusun ide kompleks, mengurutkan tindakan, dan memantau tujuan.

Dengan mengeksternalisasi pikiran secara internal, otak dapat mengurangi kekacauan mental dan memberi struktur pada persoalan yang abstrak atau emosional. Tak heran, kebiasaan ini kerap muncul saat seseorang sedang memecahkan masalah atau merencanakan sesuatu.

Namun, seperti halnya melamun, self-talk juga perlu dijaga. Jika berubah menjadi ruminasi berlebihan atau kritik diri yang keras, dampaknya justru bisa merugikan kesehatan mental.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?


Psikolog menegaskan dua kebiasaan ini tergolong umum dan normal. Namun, keduanya juga bukan jaminan seseorang jenius. Manfaatnya sangat bergantung pada konteks dan cara penggunaannya.

Mind-wandering yang terarah, self-talk untuk perencanaan, serta istirahat mental yang seimbang dengan usaha nyata cenderung berkaitan dengan peningkatan kreativitas dan kualitas berpikir. Sebaliknya, jika berubah menjadi distraksi kronis atau kecemasan, kebiasaan ini bisa menjadi masalah.

Agar tetap adaptif, ada tiga langkah sederhana yang disarankan:
- Perhatikan konteks, kapan dan dalam situasi apa pikiran mulai melayang atau self-talk muncul.
- Gunakan inner speech secara sadar untuk merencanakan dan menstrukturkan pikiran.
- Beri ruang istirahat mental melalui jeda singkat agar otak bisa "bernapas".

Di tengah budaya yang mengagungkan fokus tanpa henti, disiplin, dan keheningan pikiran, kekuatan otak manusia sering kali bekerja dengan cara yang lebih halus. Jadi, lain kali saat pikiran melayang atau terdengar dialog kecil di kepala, bisa jadi itu bukan tanda malas, melainkan otak yang sedang bekerja dengan caranya sendiri.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Manfaat Memaafkan Menurut Psikologi: Turunkan Stres-Panjangkan Umur


Most Popular
Features