Internasional

Fenomena Warga Pilih Murtad Buat Menghindari Pajak Ramai di Negara Ini

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
17 January 2026 12:15
(RTL NIEUWS via Reuters)
Foto: Kebakaran besar melanda gereja ikonik berusia lebih dari satu abad di pusat kota Amsterdam pada Kamis (1/1/2026) dini hari. Bangunan bersejarah Vondelkerk, yang telah berdiri selama sekitar 154 tahun, dilalap si jago merah hingga dinyatakan tak dapat diselamatkan. (RTL NIEUWS via Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Swiss dikenal sebagai salah satu negara dengan beban pajak tertinggi di tingkat global. Di antara berbagai jenis kewajiban fiskal yang ada di negara Eropa tersebut, terdapat pajak gereja yang cukup unik, di mana pungutan ini memicu fenomena sejumlah penduduk yang memilih untuk menyatakan diri sebagai ateis agar terbebas dari kewajiban membayar.

Penerapan pajak ini sangat bergantung pada kebijakan kanton atau provinsi masing-masing, dan diwajibkan bagi individu yang secara resmi terdaftar sebagai anggota gereja yang diakui oleh negara. Adapun nilai pajak yang harus dibayarkan cukup beragam, dengan besaran mulai dari 1% hingga mencapai 3% dari penghasilan.

Satu-satunya cara untuk tidak membayar pajak tersebut adalah dengan keluar dari gereja.

Menurut laporan media lokal Le News, pada 2023 ada 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding 2022. Untuk gereja Protestan, sekitar 39.517 orang secara resmi meninggalkan gereja pada tahun yang sama. Jika ditotal, ada sekitar 100.000 orang yang meninggalkan gereja pada 2023.

Data dari Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan provinsi dengan aksi mundur dari gereja tertinggi berada di Basel-Stadt dengan persentase 4,5%. Provinsi yang terletak di Swiss utara tersebut memiliki sistem "berhenti dari keanggotaan gereja" yang memungkinkan orang tidak membayar pajak gereja.

Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi, menurut laporan Religion Watch.

Selain pajak, alasan lainnya yang mendorong orang meninggalkan gereja termasuk sekularisme hingga skandal di lingkungan rumah ibadah.

Survei dan data demografis menunjukkan semakin banyak warga Swiss yang mengidentifikasi diri sebagai ateis (sekitar ~34% dari populasi pada 2022). Angka ini menunjukkan banyak orang benar-benar melepaskan diri dari agama, terlepas dari pajak atau tidak.

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 13 Nama Penduduk RI Terunik, Ada Covida hingga Coronawan


Most Popular
Features