Pria 24 Tahun Meninggal Gara-Gara Demensia, Kok Bisa?

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
14 January 2026 17:05
Bendera Iggris. (Dok. Freepik)
Foto: Bendera Inggris. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang pria di Inggris meninggal usai menderita demensia di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Pria bernama Andre Yarham dari Norfolk, Inggris kala itu baru berusia 22 tahun ketika pertama kali didiagnosis menderita demensia.

Mengutip Science Alert, pada usia 24 tahun, sebagian besar otak masih dalam tahap perkembangan dewasa. Namun, otak Yarham tampak puluhan tahun lebih tua dan menyerupai otak orang berusia 70 tahun, menurut hasil pemindaian MRI yang membantu mendiagnosisnya dengan penyakit tersebut.

Yarham awalnya mulai menunjukkan gejala demensia pada tahun 2022. Sang keluarga mengatakan bahwa ia menjadi semakin pelupa dan terkadang memiliki ekspresi kosong di wajahnya.

Di tahap akhir hidupnya, ia kehilangan kemampuan berbicara, tidak lagi mampu merawat dirinya sendiri, berperilaku tidak pantas, dan terikat pada kursi rodanya.

Demensia biasanya dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, beberapa bentuk demensia dapat menyerang sangat dini dan berkembang dengan sangat cepat. Sebagai contoh, demensia frontotemporal. Inilah bentuk demensia yang didiagnosis pada Yarham.

Tidak seperti penyakit Alzheimer, yang cenderung menyerang ingatan terlebih dahulu, demensia frontotemporal menyerang bagian otak yang terlibat dalam kepribadian, perilaku, dan bahasa. Daerah-daerah ini terletak di belakang dahi dan di atas telinga di lobus frontal dan temporal.

Area-area ini membantu kita merencanakan, mengendalikan impuls, memahami ucapan, dan mengekspresikan diri. Ketika area ini rusak, seseorang dapat berubah dengan cara yang sangat menyedihkan bagi keluarga karena penderita menjadi pendiam, impulsif, atau tidak mampu berkomunikasi.

Demensia frontotemporal adalah bentuk demensia yang kurang umum, diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 20 kasus. Yang membuatnya sangat kejam adalah penyakit ini dapat muncul pada usia dewasa muda.

Dalam banyak kasus, demensia frontotemporal memiliki komponen genetik yang kuat. Perubahan pada gen tertentu dapat mengganggu cara sel otak menangani protein.

Alih-alih protein ini dipecah dan didaur ulang, protein tersebut menggumpal di dalam neuron (sel otak). Kondisi ini mengganggu kemampuan neuron untuk berfungsi dan bertahan hidup.

Seiring waktu, sel-sel otak yang terkena dampak berhenti bekerja dan mati. Seiring semakin banyak sel yang hilang, jaringan otak itu sendiri menyusut.

Mengapa proses ini terkadang dapat dimulai begitu dini dalam kehidupan masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, ketika seseorang memiliki mutasi genetik yang kuat, penyakit ini tidak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berkembang. Sebaliknya, mutasi tersebut memungkinkan kerusakan untuk berakselerasi, dan ketahanan otak yang biasanya ada pun gagal.

Pemindaian otak yang dilakukan saat Yarham masih hidup menunjukkan penyusutan yang mencolok untuk seseorang yang masih sangat muda. Tetapi membandingkan otak Yarham dengan otak seseorang yang berusia 70-an akan menyesatkan.

Otaknya tidak menua lebih cepat dalam arti biasa. Sebaliknya, sejumlah besar neuron telah hilang dalam waktu singkat karena penyakit tersebut.

Dalam penuaan yang sehat, otak berubah perlahan. Daerah-daerah tertentu menjadi sedikit lebih tipis, tetapi struktur keseluruhan tetap utuh selama beberapa dekade. Tetapi dalam bentuk demensia yang agresif, seluruh jaringan otak runtuh sekaligus.

Pada demensia frontotemporal, lobus frontal dan temporal dapat menyusut secara drastis. Saat area-area ini memburuk, orang kehilangan kemampuan yang didukung oleh area tersebut termasuk kemampuan berbicara, pengendalian emosi, dan pengambilan keputusan.

Ini menjelaskan mengapa Yarham kehilangan kemampuan berbahasa begitu terlambat tetapi begitu tiba-tiba dan mengapa kebutuhannya akan perawatan penuh waktu meningkat begitu cepat.

Donasi Otak
Keluarga Yarham memutuskan untuk mendonasikan otaknya untuk penelitian. Ini adalah hadiah yang luar biasa karena diharapkan dapat mengubah tragedi menjadi harapan bagi orang lain.

Demensia saat ini belum ada obatnya. Begitu gejalanya muncul, tidak ada cara untuk menghentikannya, dan perawatan yang memperlambat gejala memiliki efek terbatas.

Sebagian alasannya adalah karena otak sangat kompleks dan masih belum sepenuhnya dipahami. Setiap otak yang didonasikan membantu menutup kesenjangan itu.
Otak yang terkena demensia dini sangatlah langka.

Setiap otak yang didonasikan memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari secara detail apa yang salah pada tingkat sel dan protein. Meskipun pemindaian otak dapat memberi tahu kita bagian otak mana yang telah hilang, hanya jaringan yang didonasikan yang dapat mengungkapkan penyebabnya.

Para peneliti dapat memeriksa protein mana yang terakumulasi, jenis sel mana yang paling rentan, dan bagaimana peradangan dan respons imun mungkin berkontribusi pada kerusakan tersebut. Pengetahuan itu secara langsung mendukung upaya untuk mengembangkan pengobatan yang memperlambat, menghentikan, atau bahkan mencegah demensia.

Keputusan keluarga untuk mengizinkan para ilmuwan mempelajari jaringan dari kasus demensia frontotemporal dini yang sangat langka ini dapat membantu mengungkap rahasia yang dapat memandu pengobatan untuk generasi mendatang.

Kisah pemuda berusia 24 tahun ini mengingatkan kita bahwa demensia bukanlah satu penyakit tunggal, dan bukan masalah yang terbatas pada usia tua. Memahami mengapa hal itu terjadi akan menjadi satu langkah kecil untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Waspada, Ahli Ungkap Kebiasaan Ngupil Tingkatkan Risiko Demensia


Most Popular
Features